Aku adalah wanita yang tak mengenal cinta. Sudah sejak
lama aku menutup hati untuk cinta baru. Entahlah, mungkin kenangan masalalu
yang memaksaku untuk melakukannya. Mungkin juga karena seorang pria yang
menorehkan luka, mematahkan harapan, dan mencampakkan seluruh usahaku selama
ini. Ah, pria itu. Aku juga tak tahu mengapa aku begitu sulit melupakannya.
Rasanya, aku tidak bisa. Sungguh, aku tidak bisa. Ada sedikit yang mengganjal
di hatiku. Kenangan masa lalu yang selalu berputar-putar mengelilingi kepalaku.
Berlarian tak tentu arah di otakku. Ah, sebenarnya aku lelah. Aku sudah
benar-benar tidak mau berurusan dengannya lagi. HAHAHA atau mungkin aku yang
terlalu tolol. Terlalu sulit mematahkan hati yang sebenarnya sedari dulu sudah
patah. Terlalu sulit berlari kencang meninggalkan semua asa yang sebenarnya tak
pernah ada. Lihat saja, bagaimana aku sekarang? Sendiri. Sepi. Semuanya berubah
derastis. Itulah yang membuatku tak mau berurusan dengan cinta. Aku malas
memperjuangkan orang yang salah. Aku lelah memapah hati yang patah. Aku belum
siap dengan semua komitmen yang mendera. Aku tidak mau terbebani dengan cinta.
Aku tidak mau mengenal cinta lagi. Aku takut. Sudah lama sekali rasanya aku
bertahan seperti ini. Sendiri. Ah, aku lebih bahagia. Bahkan sangat bahagia.
Semua aku lakukan sendiri. Tanpa ada sosok pria yang berdiri di sampingku.
Memberiku semangat. Memberiku kasih sayang. Sesungguhnya aku rindu sekali
diperlakukan bak seorang putri. Tapi hati ini masih enggan. Masih belum mau
bergelut dengan jutaan komitmen.
Ketika aku duduk di sudut kamar sembari menatap
satu-satunya jendela mungil yang ada di kamarku, yang ukurannya tak terlalu
besar. Tapi cukup untuk tetap memberikan pancaran sinar matahari setiap
harinya. Ya, ini adalah tempat favoritku. Imajinasiku benar-benar berpetualang
jika sudah disini. Ia berlari ke kanan, kadang ke kiri. Kadang berlari kencang
ke masa depan. Kadang juga berlari ke masa lalu. Sama seperti saat ini.
Ditambah lagi beberapa lagu lawas dari Paramore
membuatku semakin mengingat pria itu. Aku seperti berlari mundur ke masa
lalu. Berlalu meninggalkan semuanya. Ah, betapa hal ini sangat menyiksa. Aku
harus kembali mengingatnya lagi. Jika aku bisa berbicara pada hatiku, ingin ku
sampaikan bahwa aku lelah mengingat semuanya. Aku tidak mau melakukan kesalahan
fatal lagi dengan tetap membiarkan kenangan itu berlalu lalang di otakku.
Tidak. Sudah cukup membuatku jatuh lagi untuk kesekian kalinya. Beberapa lagu
dari Paramore masih mengalun lembut melewati telingaku. Menyapa
ringan kemudian meletakkan setumpuk kenangan. Ya Tuhan rasanya benar-benar
seperti kembali ke masa beberapa bulan yang lalu. Ketika pria itu masih
sepenuhnya aku miliki. Aku masih bisa menatapnya dengan leluasa. Menanamkan
semua harapan yang aku anggap akan menjadi nyata. Tapi, tidak.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai sedikit membuka hati
untuk cinta baru. Aku hanya berharap ini adalah pilihan yang tepat. Agar aku
tak terus menerus terjatuh di masa lalu. Aku ingin beranjak. Aku tidak ingin
bergelut dengan masa lalu lagi. Lelah. Aku sungguh lelah. Mungkin inilah
batasnya. Aku harus melangkah sekarang. Memberikan kesempatan yang baru bagi
hatiku untuk merasakan lembutnya kasih sayang seorang pria. Ah, aku rindu itu.
Benar saja, aku menemukan seorang pria baru. Aku belum
pernah bertemu dengannya. Belum pernah membiarkan mataku bertemu dengan matanya
selayaknya sepasang kekasih. Aku belum melihat paras tubuhnya. Tapi entahlah,
selama aku mengenalnya, aku merasakan kenyamanan sama seperti beberapa bulan yang
lalu. Saat pria yang pernah melukaiku itu belum menorehkan luka. Saat pria yang
mematahkan harapanku itu masih memberikan kenyamanan. Ya, seperti itulah. Aku
merasakan kenyamanan yang luar biasa. Mungkin lebih. Aku sudah memberanikan
hatiku untuk jatuh kepadanya. Perlahan tapi pasti. Mau tidak mau, suatu saat
nanti aku pasti jatuh cinta dengannya. Sederhana.
Aku mengenalnya sangat sederhana. Pria yang biasa aku
panggil Mas itu, adalah sosok pria yang biasa saja. Tak ada hal yang luar biasa
pada dirinya. Tapi, Tuhan memang Maha Bijaksana. Tuhan menyelipkan keunikan
yang mungkin hanya aku yang bisa melihatnya. Dia begitu saja memasuki duniaku
yang sepi dan sendiri. Dia seperti menorehkan warna baru dan membuatku sangat
menantikan kehadirannya. Dia sangat manis. Dia berhasil membuatku melupakan
kenangan buruk masa lalu. Dia juga yang berhasil membuka hatiku yang sebelumnya
benar-benar aku tutup rapat untuk cinta baru. Namun, dia menembusnya dengan
sempurna. Dengan sedikit ulasan kasih sayang. Dan aku mulai menyukainya.
Kadang-kadang kami sering mengahbiskan waktu untuk
bertelepon. Membiarkan suaraku bertemu dengan suaranya meski terbentang jarak
yang cukup jauh. Ah, rasanya aku benar-benar jatuh. Sudah lama sekali aku tak
membiarkan jantungku berdebar sekencang ini. Dan sekarang, setelah sekian lama
aku membiarkannya, debar jantungku
meletup dengan kuatnya. Aku benar-benar bahagia. Aku tak tahu mengapa aku bisa
menyukainya. Menyukai pria yang belum pernah aku lihat parasnya itu. Ah,
sudahlah aku benar-benar bersyukur ketika dia memutuskan memasuki duniaku. Aku
bahagia mengenalnya. Aku hanya berharap menjadi rumah baginya. Rumah yang
menyediakan kenyamanan yang nyata. Membasuhnya dengan penuh kasih. Agar ketika
ia pergi jauh dan meninggalkan rumahnya, ia dapat kembali sendiri. Tanpa aku
tuntun, tanpa aku tatih. Karena aku adalah rumahnya. Dengan insting dari
hatinya lah yang akan membawanya kembali.
Annisa Ulfah Miah
8 Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar