Kamis, 08 Mei 2014

Karena Aku Adalah Rumahnya


 


             Aku adalah wanita yang tak mengenal cinta. Sudah sejak lama aku menutup hati untuk cinta baru. Entahlah, mungkin kenangan masalalu yang memaksaku untuk melakukannya. Mungkin juga karena seorang pria yang menorehkan luka, mematahkan harapan, dan mencampakkan seluruh usahaku selama ini. Ah, pria itu. Aku juga tak tahu mengapa aku begitu sulit melupakannya. Rasanya, aku tidak bisa. Sungguh, aku tidak bisa. Ada sedikit yang mengganjal di hatiku. Kenangan masa lalu yang selalu berputar-putar mengelilingi kepalaku. Berlarian tak tentu arah di otakku. Ah, sebenarnya aku lelah. Aku sudah benar-benar tidak mau berurusan dengannya lagi. HAHAHA atau mungkin aku yang terlalu tolol. Terlalu sulit mematahkan hati yang sebenarnya sedari dulu sudah patah. Terlalu sulit berlari kencang meninggalkan semua asa yang sebenarnya tak pernah ada. Lihat saja, bagaimana aku sekarang? Sendiri. Sepi. Semuanya berubah derastis. Itulah yang membuatku tak mau berurusan dengan cinta. Aku malas memperjuangkan orang yang salah. Aku lelah memapah hati yang patah. Aku belum siap dengan semua komitmen yang mendera. Aku tidak mau terbebani dengan cinta. Aku tidak mau mengenal cinta lagi. Aku takut. Sudah lama sekali rasanya aku bertahan seperti ini. Sendiri. Ah, aku lebih bahagia. Bahkan sangat bahagia. Semua aku lakukan sendiri. Tanpa ada sosok pria yang berdiri di sampingku. Memberiku semangat. Memberiku kasih sayang. Sesungguhnya aku rindu sekali diperlakukan bak seorang putri. Tapi hati ini masih enggan. Masih belum mau bergelut dengan jutaan komitmen. 

            Ketika aku duduk di sudut kamar sembari menatap satu-satunya jendela mungil yang ada di kamarku, yang ukurannya tak terlalu besar. Tapi cukup untuk tetap memberikan pancaran sinar matahari setiap harinya. Ya, ini adalah tempat favoritku. Imajinasiku benar-benar berpetualang jika sudah disini. Ia berlari ke kanan, kadang ke kiri. Kadang berlari kencang ke masa depan. Kadang juga berlari ke masa lalu. Sama seperti saat ini. Ditambah lagi beberapa lagu lawas dari Paramore membuatku semakin mengingat pria itu. Aku seperti berlari mundur ke masa lalu. Berlalu meninggalkan semuanya. Ah, betapa hal ini sangat menyiksa. Aku harus kembali mengingatnya lagi. Jika aku bisa berbicara pada hatiku, ingin ku sampaikan bahwa aku lelah mengingat semuanya. Aku tidak mau melakukan kesalahan fatal lagi dengan tetap membiarkan kenangan itu berlalu lalang di otakku. Tidak. Sudah cukup membuatku jatuh lagi untuk kesekian kalinya. Beberapa lagu dari Paramore  masih mengalun lembut melewati telingaku. Menyapa ringan kemudian meletakkan setumpuk kenangan. Ya Tuhan rasanya benar-benar seperti kembali ke masa beberapa bulan yang lalu. Ketika pria itu masih sepenuhnya aku miliki. Aku masih bisa menatapnya dengan leluasa. Menanamkan semua harapan yang aku anggap akan menjadi nyata. Tapi, tidak.

            Seiring berjalannya waktu, aku mulai sedikit membuka hati untuk cinta baru. Aku hanya berharap ini adalah pilihan yang tepat. Agar aku tak terus menerus terjatuh di masa lalu. Aku ingin beranjak. Aku tidak ingin bergelut dengan masa lalu lagi. Lelah. Aku sungguh lelah. Mungkin inilah batasnya. Aku harus melangkah sekarang. Memberikan kesempatan yang baru bagi hatiku untuk merasakan lembutnya kasih sayang seorang pria. Ah, aku rindu itu. 

            Benar saja, aku menemukan seorang pria baru. Aku belum pernah bertemu dengannya. Belum pernah membiarkan mataku bertemu dengan matanya selayaknya sepasang kekasih. Aku belum melihat paras tubuhnya. Tapi entahlah, selama aku mengenalnya, aku merasakan kenyamanan sama seperti beberapa bulan yang lalu. Saat pria yang pernah melukaiku itu belum menorehkan luka. Saat pria yang mematahkan harapanku itu masih memberikan kenyamanan. Ya, seperti itulah. Aku merasakan kenyamanan yang luar biasa. Mungkin lebih. Aku sudah memberanikan hatiku untuk jatuh kepadanya. Perlahan tapi pasti. Mau tidak mau, suatu saat nanti aku pasti jatuh cinta dengannya. Sederhana. 

            Aku mengenalnya sangat sederhana. Pria yang biasa aku panggil Mas itu, adalah sosok pria yang biasa saja. Tak ada hal yang luar biasa pada dirinya. Tapi, Tuhan memang Maha Bijaksana. Tuhan menyelipkan keunikan yang mungkin hanya aku yang bisa melihatnya. Dia begitu saja memasuki duniaku yang sepi dan sendiri. Dia seperti menorehkan warna baru dan membuatku sangat menantikan kehadirannya. Dia sangat manis. Dia berhasil membuatku melupakan kenangan buruk masa lalu. Dia juga yang berhasil membuka hatiku yang sebelumnya benar-benar aku tutup rapat untuk cinta baru. Namun, dia menembusnya dengan sempurna. Dengan sedikit ulasan kasih sayang. Dan aku mulai menyukainya.

            Kadang-kadang kami sering mengahbiskan waktu untuk bertelepon. Membiarkan suaraku bertemu dengan suaranya meski terbentang jarak yang cukup jauh. Ah, rasanya aku benar-benar jatuh. Sudah lama sekali aku tak membiarkan jantungku berdebar sekencang ini. Dan sekarang, setelah sekian lama aku membiarkannya, debar  jantungku meletup dengan kuatnya. Aku benar-benar bahagia. Aku tak tahu mengapa aku bisa menyukainya. Menyukai pria yang belum pernah aku lihat parasnya itu. Ah, sudahlah aku benar-benar bersyukur ketika dia memutuskan memasuki duniaku. Aku bahagia mengenalnya. Aku hanya berharap menjadi rumah baginya. Rumah yang menyediakan kenyamanan yang nyata. Membasuhnya dengan penuh kasih. Agar ketika ia pergi jauh dan meninggalkan rumahnya, ia dapat kembali sendiri. Tanpa aku tuntun, tanpa aku tatih. Karena aku adalah rumahnya. Dengan insting dari hatinya lah yang akan membawanya kembali.

Annisa Ulfah Miah
8 Mei 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar