Jumat, 06 Februari 2015

Tugas Parafrase dan Puisi



Tuhan Telah Menegurmu

Parafrasenya:

            Tuhan, raja semesta alam, telah menegur kita, para umat manusia. Ia menegurnya dengan sangat lembut. Dengan anggun. Bahkan dengan cukup sopan. Ia tak menindas kejam. Tidak! Ia juga tak murka kepada umat-Nya. Ia sama sekali hanya menegur umat manusia dengan sopan. Dengan sapaan lembut tanpa nada yang tinggi. Ia cukup baik. Teramat baik malah. Ia menyadari bagaimana umat-Nya yang masih enggan bersyukur. Ia tahu,apa yang harus Ia lakukan. Sekali lagi Ia hanya cukup berdiam. Menegur dengan lembut. Sungguh, orang-orang yang buta tak akan menyadari betapa lembut tegurannya. Tak akan bisa merasakan, kasih sayang-Nya yang masih turun dengan deras, hingga Ia tak menegur umat-Nya dengan murka dan amarah. Seharusnya, kita sebagai umat-Nya menyadari betapa Tuhan sungguh menegur kita walau dengan sentuhan lembut.
            Tuhan sudah mulai dengan teguran-Nya. Ya, melalui perut anak-anak miskin. Perut yang sungguh kurus. Perut yang tak henti-hentinya berbunyi ketika siang dan malam datang. Perut yang mati-matian harus menahan perih. Ya, perut anak-anak miskin. Sungguh, penderitaan yang tak bisa kita rasakan, bukan? Bagaimana bisa dirasakan? Toh, untuk membeli makanan ratusan ribu saja kita masih bisa. Jangankan ratusan ribu, untuk menyewa restaurant mahal saja kita juga sanggup. Lantas, mengapa kita sungguh tidak mengetahui teguran Tuhan? Mengapa perut anak-anak miskin itu selalu luput dari pandangan kita? Mengapa bunyi rasa lapar itu terasa melewati kuping kiri sehingga keluar dari kuping kanan? Pernahkah kita menyadari betapa nikmat Tuhan sungguh menyenangkan? Kita tidak perlu mempunyai perut anak-anak miskin. Kita juga tidak perlu mati-matian menahan lapar. Di depan kita, makanan lezat sudah tersaji dengan apik. Kita tinggal memilih kemudian dengan lahap memakannya. Nah, coba sekarang kita rasakan bagaimana kalau perut anak-anak miskin itu adalah perut kita. Bagaimana kalau makanan lezat itu hanya bisa kita tatap, tidak bisa kita sentuh. Apalagi kita makan. Sungguh, kita sudah mendustai nikmat Tuhan.
            Lalu, Tuhan kembali menegur kita dengan mendayunya suara adzan. Adzan yang berkumandang dalam lima kali sehari seharusnya bisa membuka mata kita semua. Tapi, bagimana ketika adzan itu berkumandang indah dan kita seolah tak mendengar. Bukankah adzan itu panggilan dari Tuhan? Sang Maha Pencipta memanggil kita dan kita seolah tuli? Sungguh, kita sudah mendustakan nikmat-Nya, lagi. Ketika adzan yang menyimpan makna sakral itu, dengan lembut menggugah hati dan pikiran. Seolah membuka mata, mengajak untuk sejenak mengingat Sang Pencipta. Meminta kita untuk bersujud memohon ampunan dari dosa yang sudah sebegitu tingginya. Namun apa yang kita lakukan? Ya, mangkir. Tidak menemui-Nya. Memilih menghabiskan waktu dengan kesibukan kita masing-masing. Andai kita tahu, Tuhan tidak pernah meminta waktu lebih dari sepuluh menit untuk melaksanakan shalat. Tuhan tidak meminta kita mengingat-Nya dalam 24 jam. Ia memberikan kita kebebasan. Ia memberikan waktu yang cukup longgar dan kita tidak bisa menyisihkannya hanya untuk bersujud dihadapan-Nya? Sungguh, kita semua adalah makhluk yang tidak tahu diri.
            Kini, Tuhan seolah semakin menegur kita. Ia sudah menepuk pundak kita lebih keras dari sebelumnya. Ia juga sudah membisikkan ke telinga kita tentang teguran-Nya. Ia sudah tak selembut sebelumnya. Ia sudah tak seanggun biasanya. Tuhan sudah mulai dengan teguran yang sesungguhnya. Apakah Ia lelah? tentu saja tidak. Tuhan tidak pernah lelah menegur umat-Nya. Teguran Tuhan adalah tanda bahwa Ia sangat menyayangi umat-Nya. Namun, bagaimana dengan umat-Nya? Apakah ia sungguh mencintai Tuhan? Kalau memang kita mencintai Tuhan, segala teguran awal dari Tuhan, sudah pasti akan kita perhitungkan. Namun kenyataannya? Kita sungguh pura-pura tidak tahu. Hingga Tuhan pun harus menegur kita lebih keras.
            Tuhan sungguh menunjukkan kuasa-Nya. Lewat bumi yang berguncang hebat. Memporak-porandakan ribuan rumah dalam sekejab. Bagi Tuhan itu adalah hal kecil. Namun bagi kita, sungguh ini akan menjadi hujan air mata. Lewat goncangan itu, Tuhan menciptakan lautan manusia yang terkapar tak bernyawa. Memperlihatkan darah segar yang mengalir dari semua sisi. Membuat suara tangisan menjadi suara bising yang terdengar di seluruh penjuru kota. Ia membuat anak kecil merengek meminta orang tuanya kembali. Ia juga membuat bayi-bayi kecil tak berdosa harus tumbuh seorang diri. Puing-puing bangunan yang berantakan menjadi pemandangan menyedihkan. Belum usai, sudah timbul masalah dengan mata pencaharian warga yang ikut lumpuh total. Seorang ayah tidak bisa menafkahi anak dan istrinya. Pusat pembelajaran membuat adik-adik kita susah mendapat ilmu. Lantas, apakah hati kita masih beku melihat ini semua? Melihat rintihan, erangan, bahkan air mata dari anak-anak kecil tak berdosa. Sungguh, Tuhan sudah mulai menepuk bahu kita dengan keras. Berharap kita akan menengok. Menyadari bahwa semua adalah teguran. Teguran yang harus kita perhitungkan.
            Belum reda air mata itu, Tuhan sudah membuat rumah-rumah kita tenggelam oleh air. Ia menurunkan hujan lebat. Disertai petir yang berkilat-kilat di angkasa. Dan dengan sombongnya, kita masih duduk manis. Menonton acara televisi favorit. Enggan memperdulikan petir yang sudah mengamuk diluar sana. Kita seolah berlindung dibalik kemewahan dunia yang kita miliki. Bah! Bagi Tuhan tidak akan menjadi masalah. Hujan itu kemudian turun terus menerus. Membuat rumah-rumah mewah kita tenggelam. Bercampur dengan air yang berbau busuk. Air yang pebuh penyakit. Itu adalah teguran Tuhan untuk yang kesekian kalinya. Ia membiarkan lagi banjir air mata. Belum juga berapa nyawa yang harus membayar ini semua. Kita semuanya harus tahu, bahwa Tuhan sungguh sudah menepuk bahu kita sangat keras!
            Nah, bagaimana? Setelah kita mengingkari nikmat Tuhan? Setelah kita tuli, kita, buta, bahkan kita bisu dengan tegurannya. Setelah semua tegurannya dibayar dengan air mata, dengan rengekan, dengan nyawa yang melayang. Masihkah kita mampu untuk tuli? Masihkan kita mampu untuk buta? Untuk bisu? Sesungguhnya sudah tidak ada ruang lagi untuk itu. Kita sudah selayaknya membuka mata. Menyadari betapa kasih sayang Tuhan sungguh besar. Betapa nikmat yang diberikan sungguh tak akan dapat terbayarkan. Lantas, apa yang harus kita lakukan? Tentu saja kita harus lebih dekat dengan Tuhan. Harus mau menyisakan sedikit waktu untuk bersujud dihadapan-Nya. Tuhan tidak mungkin menegur umat-Nya sedemikian keras kecuali kita sungguh sudah berkhianat kepada-Nya. Nah, sesungguhnya Tuhan sudah menegur kita dengan sederhana. Hanya saja, hati kita belum bisa memahaminya.


Kau Telah Berjanji
Oleh: Annisa Ulfah

Kau telah berjanji
Membawaku kepada bunga abadi
Membiarkanku memcium harumnya hingga nanti
Kau telah berjanji
Membawaku pada mentari pagi
Hingga senja datang kan menutupi

Kau juga sempat berkata
Kan menggadengku hingga ke puncak yang tak rata
Mempersilahkanku untuk menghirup hawa yang nyata
Kau sudah berkata langsung
Kelak, lenganmu akan menjadi pelindung
Dari malam yang dingin di tenda ujung

Kau sudah berikrar
Memperlihatkanku rasi bintang-bintang besar
Sembari memetik senar gitar
Duduk berdua menatap layar

Sungguh, kau sudah berjanji
Mendaki gunung bersama hingga pagi datang lagi
Menikmati hawa dingin menusuk pipi
Sungguh, kau harus menepati janji
Membawaku kepada mentari
Membiarkanku menari-nari
Memetik bunga abadi

Berjanjilah…
Bahwa perjalanan ini adalah milik berdua
Bukan tentang kau, aku, atau mereka
Tapi ini perjalanan kita
Bersama mendaki hingga angkasa

Kau sudah berjanji
Kelak, ini tak hanya menjadi sebuah mimpi

“Puisi ini menceritakan tentang seseorang yang telah berjanji akan mengajak untuk mendaki gunung bersama. Untuk melihat betapa indah anugerah Tuhan yang sudah Tuhan ciptakan. Seseorang itu sudah berkata, berjanji, bahkan berikhrar bahwa ia akan menjadi pelindung ketika mendaki nanti. Bahwa akan ada banyak hal yang dilakukan ketika sudah sampai puncak nanti. Akan melihat matahari terbit, akan mengambil bunga abadi, dan melihat bintang ketika malam datang.”

2 komentar:

  1. Ok, tetapi tafsir yang lain kan tetap boleh di samping yang Anda berikan.

    BalasHapus
  2. Tugas meneruskan penggalan cerpen untuk Ujian Praktik Menulis, mana Bro?

    BalasHapus