Kau tahu?
Ingin rasanya aku kembali ke masa dimana problematika yang dihadapi tak sedalam
ini. Tak menyangkut batin. Hanya logika. Tak perlu aku berpikir panjang untuk menemukan
ujungnya. Kadang, aku merasa rindu tertawa bebas. Menghadapkan wajah ke langit
dengan mulut menganga, riang. Rindu merasakan mata berair karena terlalu banyak
hal yang harus ditertawakan. Rindu juga bergandengan bersama. Mengenal satu
dengan yang lain. Menjalin persahabatan erat. Nah, kadang aku merindukan masa
itu. Masa dengan problematika rendah. Tapi aku bisa apa? Rasanya untuk kembali
pun tidak akan mungkin. Mesin waktu sebaik apapun tak akan ada yang bisa
menggeser takdir Tuhan, bukan? Sekalipun ada, apa bisa mengembalikan? Tuhan
tentu tak akan memberi izin. Mau apa? Tuhan sudah jelas-jelas bekerja sesuai
rencana-Nya. Berharap waktu semakin berlalu menjadi semakin baik. Tak peduli
akan seberapa berat rintangan untuk menjadi “baik”. Akan seberapa lelah
memperjuangkan. Bagi Tuhan, yang jelas Ia sudah bekerja sesuai dengan
rencana-Nya. Memperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki. Meninggalkan apa yang
seharusnya ditinggalkan. Serta mempertahankan apa yang harus dipertahankan. Sebenarnya,
maksud Tuhan sederhana. Hanya mengajarkan untuk menjadi lebih baik. Dan kau
kembali benar dalam hal ini, komandan.
Suasana
seperti ini, rasa-rasanya sungguh tidak bisa berhenti menyeretku dari
problematika kita. Pernah aku merasa tidak ingin memikirkannya. Pasrah. Ingin berjalan
sesuai dengan kehendak Tuhan. Semakin menjauh malah semakin menguat. Semakin aku
tangkis, malah semakin keras aku ditamparnya. Kau tahu, jika itu semua hanya
sebuah tumpukan buku-buku tebal, ingin rasanya aku lempar jauh. Entah terbanting
pada tembok, entah pada batu, yang jelas hingga hancur. Agar tak ada lagi
problematika sedalam ini. Agar aku bisa merobek dinding waktu. Meminta izin
pada Tuhan untuk melesatkannya, tanpa pandang bulu. Tapi sekali lagi, mau apa? Toh,
ucapanku tak akan bisa mengubah apapun. Sekeras apapun buku tebal ini aku
lempar, palingan hanya rusak. Sobek sedikit di ujung. Tak bisa hancur sempurna.
Sama seperti dinding jarak yang akan kita hadapi kelak. Bah! Pikiran carut marut yang aku hadapi sungguh menguras. Dan aku
hanya bisa diam. Menatap tumpukan buku tebal di hadapan. Menikmati detik jam
yang semakin lama semakin mengeras. Membayangkan waktu-waktu terbaik. Nah,
waktu-waktu terbaik? Belum, itu belum berujung. Bahkan baru dimulai. Dan entah,
apakah waktu terbaik lainnya masih bisa aku wujudkan? Kau benar, akan ada hal
buruk di sebaik apapun rencana kita.
Nah,
mau dikatakan bagaimanapun, hal buruk pasti terjadi. Aku tidak ingin membuat
hal buruk itu sebagai penghancur. Melainkan sebagai penguat. Agar kita tetap
berada pada satu jalur. Bukankah kau sudah memintaku untuk menjadi penguatnya? Nah,
kali ini aku tegaskan, aku mau. Aku akui, aku memang belum bisa menjadi penguat
yang sempurna. bahkan kadang aku merasa, aku masih belum bisa memilikimu
sepenuhnya. Entahlah, aku tidak mengerti apa yang harus aku katakan kali ini. Yang
jelas, aku hanya ingin kau agar dijaga-Nya. Dipermudah atas segala urusan. Dilindungi dari segala hal buruk yang datang. Aku hanya ingin kau tumbuh
menjadi manusia terbaik. Entah dengan atau tanpa aku, nantinya. Aku sudah
banyak berdoa untukmu. Sejak pertemuan pertama kita tempo hari. Tapi tunggu,
aku ingin kau mengetahui satu hal. Aku ingin kau tetap disamping. Seburuk apapun
kondisi kita nanti. Sekuat-kuatnya Tuhan meminta salah satu dari kita berhenti,
itupun karena melepaskan dengan lembut. Bukan memaksa. Melepaskan karena
kepergian yang memang sudah waktunya. Sudah diambil oleh-Nya. Bukan kepergian
karena orang lain. Jangan sampai. Aku juga selalu menyertai doaku dengan waktu
terbaik kita, selama apapun waktu itu akan kita rasakan. Tenang saja, aku akan
tetap berdiri dengan senyum disampingmu. Tak menggubris hal-hal yang bagiku
sungguh tak penting. Yang aku mau adalah kita berdua hadir dalam waktu terbaik.
Jangan tanyakan padaku bila waktu terbaik itu tak terjadi. Aku sungguh ingin
melompati bagian itu. Tak ingin aku mengetahuinya sedikitpun. Menyentuhnya apalagi.
Sungguh, tak akan. Hahaha aku memang
pengecut, komandan. Aku tidak ingin melihat sisi buruk dari sebuah kehidupan. Enggan
menerima. Kau tahu alasannya? Karena aku sudah lama terjebak pada sisi buruk. Tak
ingin kembali lagi. Aku sudah lelah. Terima kasih banyak komandan, kau
memberiku sebuah sisi baik yang berharga. Dan semoga ini menjadi seterusnya. Sumpah!
Bawa aku selalu pada sisi baik. Bisakah?
Nah, coba bayangkan, ini adalah ujung dari waktu terbaik kita.
Nah, coba bayangkan, ini adalah ujung dari waktu terbaik kita.
“Senja
itu, aku melihat kau bercahaya terpapar sinar matahari sore. Dengan rambut yang
memutih. Dengan sebuah tongkat yang kau genggam erat di tangan kanan. Kau duduk
menatap matahari yang tenggelam. Aku berjalan pelan, menghampirimu yang dengan
damai menatap matahari senja. Aku usap belakang punggungmu. Memberikan senyuman
ramah. Kau menoleh sambil membenarkan kacamata berlensa tebal itu. Seperti biasanya,
kau merangkul tubuhku yang sudah mulai ringkih. Ah iya, menatap senja bersama
adalah kebiasaan kita. Sesekali pikiran kita tertuju pada arah yang sama. Waktu
ketika kita begitu takut untuk melewatinya. Masa itu, ingat? Ketika kita
mati-matian berserah. Tidak ingin mengetahui bagaimana jalannya. Yang penting
aku denganmu. Kau denganku. Ah, selayaknya seorang yang sudah tua memang
memiliki daya ingat rendah. Namun, itu sungguh tidak terjadi pada kita. Hingga tubuh
seringkih ini. Wajah yang sudah mengeriput, kita tetap mengingat sebuah
perjalan. Kita masih bsia menjadi penguat. Hingga saat ini. Hingga aku sudah
tidak bisa memakai jilbab sendiri. Hingga tanganmu yang juga renta itu
membantuku untuk memakaikannya. Dan ketika bibirmu menyium keningku yang semula
kuat dan tegas, kini lama-lama sudah melemah. Otot wajah sudah tidak bisa
bekerja dengan baik. Namun, satu hal tidak berubah. Kehangatannya sungguh tetap
sempurna.
Senja ini,
ketika kita sudah berhasil mewujudkan semua yang memang harus kita wujudkan. Kita
berdiri disebuah rumah yang indah. Di sebuah Negara impian kita berdua. Tinggal
dengan ceria bersama anak-anak kita. Hingga kini, semua yang sebelumnya hanya
sebuah angan, sudah kita wujudkan. Aku menggenggam tanganmu yang bergetar. Aku satukan.
Aku cium. Sebagai rasa hormat. Aku berterimakasih kau sudah usahakan kita
selalu dalam sisi baik. Kau sudah mati-matian. Dan biarkan kini aku juga
merawatmu. Hingga nanti kau atau aku yang akan melepaskan dengan lembut.”
Pastikan,
bahwa kau juga membayangkannya sama sepertiku. Kau juga merasakan bagaimana
bahagianya kita berdua. Bagaimana rasanya kalau kita saling berusaha untuk
tetap berada pada satu jalur. Sesulit apapun nanti, sungguh aku ingin itulah
ujung dari waktu terbaik kita. Jangan pernah menyerah kepadaku. Karena aku tak
akan melakukan hal itu kepadamu. Tenang, aku akan tetap berdiri disamping. Berjalan
gagah seperti biasanya. Selalu. Hingga kau sudah tak membutuhkanku lagi,
kelak. Baru aku akan berhenti. Tetapi, aku tahu, kau takkan pernah memintaku
demikian. Semoga. Semoga ujung terbaik kita adalah bahagia.
Annisa Ulfah
8 Maret 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar