Jumat, 08 Mei 2015

Janji



            Akhir-akhir ini aku banyak menghabiskan waktu untuk sekedar menatap langit. Kau tahu kenapa? Bulan akhir-akhir ini sempurna bulat. Indah sekali. Rasanya bila ditatap berdua aku sungguh tidak ingin bergeser. Sedikitpun tak akan. Menyandarkan kepalaku sambil bersenandung manja. Kau pasti juga akan merasakan hal yang sama bukan? Jika terpaan angin itu menghempas tubuhku, aku yakin kau pasti akan menangkisnya segera. Kau pasti takkan rela wanitamu ini menggigil kedinginan. Kau tahu? Entah sampai kapan kau akan tetap disamping walau kau selalu berkata untuk selamanya. Untuk seterusnya. Sungguh jika nanti kita benar-benar terpaksa terpisah karena jarak dan waktu masih maukah kau menangkis dingin yang menerpa? Masih maukah kau sekedar melindungiku? Kita sama sama tidak mengerti bagaimana waktu mengatur segalanya. Namun jika diijinkan aku sungguh tidak ingin kau hilang dari depan mata. Lenyap begitu saja dan pergi. Tidak akan aku biarkan. Sekuat apapun nanti aku sungguh ingin selalu berdua. Apakah kau juga demikian? aku sudah yakin aku memilih seorang pria yang tepat dalam hidupku. Sebagai seorang wanita yang sudah beranjak dewasa, tidak banyak lagi yang akan aku lakukan. Aku ingin menyelesaikan studiku dengan baik. Mempertahankan seorang pria yang memang suah menjadi pilihanku. Tidak untuk yang lain. Banyak beban yang masih aku pikul. Dan perlahan-lahan aku sungguh ingin melepasnya pada waktu yang tepat. Melepasnya bukan berarti membuang atau meninggalkan. Tetapi berusaha untuk menjadikan sebuah bahagia. Bukan sebuah beban.

            Dan kau sebagai pria yang aku pilih, aku sungguh berharap banyak padamu. Tidak ingin banyak bicara. Aku hanya ingin mempertahankan seorang saja. Setelah semua studiku berakhir dengan hebat, tak akan ada lagi keinginan selain membahagiakanmu dan orang-orang disekitarku tentu. Mewujudkan semua impian kita yang menggunung. Saling berusaha dan berdoa. Aku yakin, jika kau memang sudah tepat. Sudah layak untuk menggandeng lenganku berdua. Aku sudah yakin. Lantas mau apa lagi? Aku sungguh tidak ingin kau hilang. Kali ini aku benar-benar ketakutan. Mengapa? banyak hal rancu dan buruk selalu merasuk pikiran. Genggaman erat yang selalu engkau berikan itu sungguh akan selalu terikat kuat. Aku tidak akan rela jika ada tangan wanita lain yang kau genggam. Sungguh tak akan. Akan aku lakukan segala cara untuk membuatmu tetap berada isamping. Apapun itu. Kau tahu? Ketakutan ini semakin menguat. Sungguh aku hanya bisa mendongak membaca untaian doa yang selalu sama. Menyelipkan namamu dan impian kita. Bahkan ketika kita sedang shalat berdua. Kau tahu bukan, aku selalu menjadi yang terakhir. Kau tahu apa yang menjadi doaku? Ketika kau duduk didepanku mengumanangkan takbir. Mengajak sujud bersama. Hingga aku mencium tanganmu dan kau mencium keningku, kau tahu bagaimana rasanya? Luar biasa! Sungguh mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia. 

            Aku hanya berharap satu padamu dan itu selalu sama. Tak akan berbeda. Sesulit apapun nanti kau suah berjanji akan tetap disampingku. Ketika aku jatuh. Ketika aku tersungkur. Kau sudah berjanji akan menarik lenganku. Kau bisa membuktikan semuanya bukan? Aku percaya kau adalah pria yang berbeda. Aku yakin kau memang sudah ada untukku. Jadi, mari kita berusaha berdua. Mari kita membuat jejak untuk impian kita. Mari kita buat hidup kita lebih berarti satu sama lain. Kau mau melakukannya bukan? Mari kita wujukan semua yang masih semu. Kita buat angin yang menerpa kita sebagai sebuah pendorong bukan penghambat. Kita sama-sama yakin bukan? Jadi biarkan sekarang Tuhan yang bekerja bahwa sebuah hasil tak akan menghianati usahanya. Kau tetap ingin bertahan? Baiklah. Genggam tanganku dan serukan bahwa kita akan melewati semua dengan mudah. Rangkul bila kau sungguh tak ingin kehilangan. Dan selipkan aku dalam semua doamu agar kita tetap bisa berjalan walau dalam padang duri. Mari kita lakukan.


You don’t know what I feel now. But I’m sure you are that I need.
Annisa Ulfah Miah
8 Mei 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar