Akhir-akhir
ini aku banyak menghabiskan waktu untuk sekedar menatap langit. Kau tahu kenapa?
Bulan akhir-akhir ini sempurna bulat. Indah sekali. Rasanya bila ditatap berdua
aku sungguh tidak ingin bergeser. Sedikitpun tak akan. Menyandarkan kepalaku
sambil bersenandung manja. Kau pasti juga akan merasakan hal yang sama bukan? Jika
terpaan angin itu menghempas tubuhku, aku yakin kau pasti akan menangkisnya
segera. Kau pasti takkan rela wanitamu ini menggigil kedinginan. Kau tahu? Entah
sampai kapan kau akan tetap disamping walau kau selalu berkata untuk selamanya.
Untuk seterusnya. Sungguh jika nanti kita benar-benar terpaksa terpisah karena
jarak dan waktu masih maukah kau menangkis dingin yang menerpa? Masih maukah kau
sekedar melindungiku? Kita sama sama tidak mengerti bagaimana waktu mengatur
segalanya. Namun jika diijinkan aku sungguh tidak ingin kau hilang dari depan
mata. Lenyap begitu saja dan pergi. Tidak akan aku biarkan. Sekuat apapun nanti
aku sungguh ingin selalu berdua. Apakah kau juga demikian? aku sudah yakin aku
memilih seorang pria yang tepat dalam hidupku. Sebagai seorang wanita yang sudah
beranjak dewasa, tidak banyak lagi yang akan aku lakukan. Aku ingin
menyelesaikan studiku dengan baik. Mempertahankan seorang pria yang memang suah
menjadi pilihanku. Tidak untuk yang lain. Banyak beban yang masih aku pikul. Dan
perlahan-lahan aku sungguh ingin melepasnya pada waktu yang tepat. Melepasnya bukan
berarti membuang atau meninggalkan. Tetapi berusaha untuk menjadikan sebuah
bahagia. Bukan sebuah beban.
Dan
kau sebagai pria yang aku pilih, aku sungguh berharap banyak padamu. Tidak ingin
banyak bicara. Aku hanya ingin mempertahankan seorang saja. Setelah semua studiku
berakhir dengan hebat, tak akan ada lagi keinginan selain membahagiakanmu dan orang-orang
disekitarku tentu. Mewujudkan semua impian kita yang menggunung. Saling berusaha
dan berdoa. Aku yakin, jika kau memang sudah tepat. Sudah layak untuk menggandeng
lenganku berdua. Aku sudah yakin. Lantas mau apa lagi? Aku sungguh tidak ingin
kau hilang. Kali ini aku benar-benar ketakutan. Mengapa? banyak hal rancu dan
buruk selalu merasuk pikiran. Genggaman erat yang selalu engkau berikan itu sungguh
akan selalu terikat kuat. Aku tidak akan rela jika ada tangan wanita lain yang
kau genggam. Sungguh tak akan. Akan aku lakukan segala cara untuk membuatmu
tetap berada isamping. Apapun itu. Kau tahu? Ketakutan ini semakin menguat. Sungguh
aku hanya bisa mendongak membaca untaian doa yang selalu sama. Menyelipkan namamu
dan impian kita. Bahkan ketika kita sedang shalat berdua. Kau tahu bukan, aku
selalu menjadi yang terakhir. Kau tahu apa yang menjadi doaku? Ketika kau duduk
didepanku mengumanangkan takbir. Mengajak sujud bersama. Hingga aku mencium
tanganmu dan kau mencium keningku, kau tahu bagaimana rasanya? Luar biasa! Sungguh
mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia.
Aku
hanya berharap satu padamu dan itu selalu sama. Tak akan berbeda. Sesulit apapun nanti
kau suah berjanji akan tetap disampingku. Ketika aku jatuh. Ketika aku
tersungkur. Kau sudah berjanji akan menarik lenganku. Kau bisa membuktikan
semuanya bukan? Aku percaya kau adalah pria yang berbeda. Aku yakin kau memang
sudah ada untukku. Jadi, mari kita berusaha berdua. Mari kita membuat jejak
untuk impian kita. Mari kita buat hidup kita lebih berarti satu sama lain. Kau mau
melakukannya bukan? Mari kita wujukan semua yang masih semu. Kita buat angin
yang menerpa kita sebagai sebuah pendorong bukan penghambat. Kita sama-sama
yakin bukan? Jadi biarkan sekarang Tuhan yang bekerja bahwa sebuah hasil tak
akan menghianati usahanya. Kau tetap ingin bertahan? Baiklah. Genggam tanganku dan
serukan bahwa kita akan melewati semua dengan mudah. Rangkul bila kau sungguh
tak ingin kehilangan. Dan selipkan aku dalam semua doamu agar kita tetap bisa
berjalan walau dalam padang duri. Mari kita lakukan.
“You don’t
know what I feel now. But I’m sure you are that I need.”
Annisa Ulfah Miah
8 Mei 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar