Seminggu yang lalu, kamu masih sempat merangkulku dan memeluk erat tanganku. Seminggu yang lalu juga, kita masih jalan bersama keliling kota, lunch, dinner, bahkan menonton konser bersama. Hal yang kita lakukan memang monoton, namun aku tetap menyukainya. Segala hal, sekecil apapun itu, aku masih merasa senang bila berada disampingmu. Iya, mungkin aku terlalu berharap. Tapi, mungkinkah semua itu memang hal yang seharusnya kita lakukan sebagai sepasang kekasih?
Aku tak tahu saat ini kamu sedang berfikir apa. Mungkin kamu memirkanku? ahh rasanya mustahil. Sekali lagi aku tak mau banyak berharap. Tapi aku ingin diantara hal yang kamu fikirkan, sisakan sedikit memorimu untuk mengingatku, entah itu kebodohanku, ketololanku, atau bahkan kebencianmu padaku. Silahkan, aku tidak meminta banyak waktu saat kau memikirkanku. Satu menit juga tak apa, ohh mungkin terlalu lama, sedetik pun juga tak masalah. Aku ingin disaat kamu mengingatku, kamu masih mengingatku sebagai kekasihmu.
Kini, di tempat biasa kita bertemu, aku duduk termangu sendiri. Bagaikan whiteboard yang kehilangan boardmarkernya, yang menggelinding entah kemana. Aku masih sabar. Ada banyak hal yang lebih setia menemaniku disini. Ada udara yang masih bisa ku rasakan. Meskipun sejujurnya aku berharap ada suara nafasmu diantara ribuan derai udara ini. Ada juga pohon-pohon yang rindang seakan menari bersama kawan sejatinya, angin. Aku iri. Sangat iri. Sebuah pohon bisa menari bersama angin yang tak pernah bisa terlihat. Namun sangat nyaman dirasakan. Kamu, kamu dapat aku lihat dengan kesilauan. Aku ingin menari bersamamu seperti pohon-pohon yang menari bersama angin. Tapi, kesilauanmu menggangguku. Aku tak dapat menyentuhmu. Bahkan melihatmu. Aku semakin iri setelah ada dua burung terbang bersama. Dengan jari telunjukku yang lemah, aku menunjuk seekor burung jantan. Aku mulai menangis, ya menangis melihat keirian yang sangat menyayat perasaan.
Aku masih setia. Duduk sendiri dengan sebuah novel manis ditangan. Aku ingat betul. Sangat-sangat ingat ketika kau merangkulku di suatu perjalanan yang indah. Kita saling berpamer kemesraan. Kita tak pernah lepas, bahkan kita sempat berjanji. Tapi kemana kamu sekarang? kemana janjimu? Alasan yang tak logis beribu-ribu ku terima. Aku masih sabar. Sabar dalam keheningan. Sabar dalam kegelisahan. Sabar dalam kebimbangan. Bahkan aku masih sabar dalam kemunafikkan. Aku terima. Iya, aku terima. Aku anggap ini usaha mempertahankanmu.
Semakin lama termangu, aku semakin sadar. Aku mengerti keadaan. Aku menunggu semua ini berakhir dengan indah. Tuhan tak pernah tidur, tak diam, dan Dia menghitung semua air mataku yang ku jatuhkan karna kamu. Air mata yang akan diganti dengan kebahagiaan oleh Tuhan. Aku percaya keajaiban. Aku percaya kamu mendengar dari kejauhan.
Semakin diam, aku semakin tersiksa. Seakan aku tak dapat bernafas dalam keheningan sore ini. Aku seakan mati suri dalam kenyataan. Aku sekan berjalan sendiri tanpa tujuan. Aku seakan.... Ah sudahlah, semuanya tak berarti. Semua hancur. Aku sabar. Aku sabar, Tuhan. Aku memejamkan mata, dan mulai memainkan imajinasiku, kamu sedang datang. Iya datang untuk menemuiku. Berjalan dengan mengukir senyum indah disudut bibirmu. Berjalan dengan tergesa-gesa seakan rindu yang telah mendorongmu. Berjalan dengan membuka kedua tanganmu yang seakan-akan siap memelukku dalam naungan kerinduan. Aku semakin tenggelam. Tenggelam dan tenggelam dalam bayang semu dirimu. Dalam manisnya pertemuan singkat yang semakin membuat luka menganga di hatiku. Luka karena rindu. Iya, karena rindu. Aku merindukanmu dan hanya dapat ku abadikan dalam imajinasiku.
Semua kini berlalu, perlahan lahan mataku terbuka. Aku tersadar aku masih disini. Ditempat biasa kita bertemu. Tempat yang menayangkan indah sorot matamu. Tempat yang membuatku selalu merindukan wangi tubuhmu. Kini kawan setia ku mulai lelah, udara kini bertambah ganas. Pohon mulai berhenti menari bersama angin. Mungkin mereka lelah. Mereka lelah menungguku yang asyik berimajinasi dalam rindu. Atau mereka memang berhenti. Agar aku berhenti mengimajinasikanmu. Karna mungkin mereka tau, aku terlalu rapuh. Rapuh untuk menyadari bahwa kerinduanku hanya ku abadikan dalam naungan imajinasiku :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar