Rabu, 27 November 2013

Seminggu Pertama Tanpamu

              Kenangan itu belum sirna setelah seminggu ini. Kenangan indah yang sempat kita lukis bersama dalam dimensi keabadian. Kenangan yang sebelumnya akan menjadi cerita pengantar tidur bagi anak kita nanti. Serta kenangan yang selalu kita banggakan selama ini. Iya, kini semua hanya tinggal cerita usang. Cerita yang gagal kita ceritakan pada anak kita nanti. Cerita yang hanya menjadi angan semu.

               Seminggu setelah kamu pergi. Aku masih berurai air mata dan tak kenal apa itu bahagia. Apa itu keikhlasan dan kenyataan. Aku masih menutup diri dan pikiran. Aku masih menguncinya dengan kasih sayang luar biasa atas nama kamu. Pria yang menorehkan luka dalam yang berbekas. Pria yang sebelumnya juga memberiku bahagia dan suka cita. Iya, pria yang aku maksud adalah kamu.

               Ini adalah seminggu yang sulit bagiku. Seminggu yang membuatku hancur luar biasa. Seminggu yang membawaku pada angan semu tanpa nyata. Seminggu yang benar-benar menguji kesabaranku. Dan ini adalah seminggu pertama tanpa kamu. Selama seminggu ini aku benar-benar merindukanmu walau kau tak pernah mau tahu. Bahkan diam-diam aku mencari jawaban kepergianmu yang begitu saja. Bertanya pada semua hal yang aku temui. Mereka bilang aku ini gila. Gila karena menanyakan pada waktu. Ya, kini aku hanya bisa memendam rindu yang sebenarnya hanya mampu memberikan sakit luar biasa. Tapi aku bahagia. Aku bahagia merindukan pria sepertimu. Setidaknya kamu sempat menghiasi hidupku tanpa cela. Memberikan warna-warna indah yang sebelumnya tak pernah ku lukis dalam kanvas kehidupanku. Kamu yang sebenarnya banyak memberikan perubahan padaku, pada hatiku, fikiranku, dan segalanya.
Ingatanku tentangmu sudah terlampau kuat. Kenangan yang indah ketika kamu disampingku masih jelas tergambar walaupun dalam bayang-bayang. Ketika suka cita itu datang, kamu bahkan menjadi bukan kamu. Kamu sempat menjelma sebagai sumber kebahagiaan dan tawaku. Aku tak mungkin memungkiri hal itu. Aku jelas ingat ketika tingkahmu yang tolol dan konyol itu melukis senyum indah di bibirku. Menorehkan ribuan kenangan indah yang memenuhi pikiranku. Atau mungkin saat kita pergi mencari angin segar bersama. Perhatian kecilmu itu membuat hatiku mendayu. Perlakuan manismu itu juga membuatku seakan menjadi tujuanmu. Iya, tujuanmu untuk selamanya. Bukan untuk sementara.

              Aku berharap agar kamu dan aku menjadi kita. Menjadi kita kembali suatu saat nanti. Aku berjanji akan membukakan pintu selebar mungkin jika kamu kembali. Aku juga berjanji akan mengajakmu untuk melukis kembali di kanvasku. Kembali mengulang dan membuat kenangan baru sebagai cerita baru untuk anak-anak kita kelak. Aku akan menunggu hingga suatu saat nanti kamu akan mencariku lagi. Membutuhkan ku untuk memberi semangat mengawali hari indahmu seperti sebelumnya. Aku yakin Tuhan akan memberikan bahagia yang luar biasa suatu saat nanti bersamamu. Karena aku tahu, kamulah kuas yang akan tetap member warna indah pada hidupku dahulu, sekarang, dan selamanya.



Magelang, 27 Nopember 2013

Annisa Ulfah Miah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar