Kenangan itu belum sirna setelah seminggu ini.
Kenangan indah yang sempat kita lukis bersama dalam dimensi keabadian. Kenangan
yang sebelumnya akan menjadi cerita pengantar tidur bagi anak kita nanti. Serta
kenangan yang selalu kita banggakan selama ini. Iya, kini semua hanya tinggal
cerita usang. Cerita yang gagal kita ceritakan pada anak kita nanti. Cerita
yang hanya menjadi angan semu.
Seminggu setelah kamu pergi. Aku masih berurai air
mata dan tak kenal apa itu bahagia. Apa itu keikhlasan dan kenyataan. Aku masih
menutup diri dan pikiran. Aku masih menguncinya dengan kasih sayang luar biasa
atas nama kamu. Pria yang menorehkan luka dalam yang berbekas. Pria yang
sebelumnya juga memberiku bahagia dan suka cita. Iya, pria yang aku maksud
adalah kamu.
Ini adalah seminggu yang sulit bagiku. Seminggu yang
membuatku hancur luar biasa. Seminggu yang membawaku pada angan semu tanpa
nyata. Seminggu yang benar-benar menguji kesabaranku. Dan ini adalah seminggu
pertama tanpa kamu. Selama seminggu ini aku benar-benar merindukanmu walau kau
tak pernah mau tahu. Bahkan diam-diam aku mencari jawaban kepergianmu yang
begitu saja. Bertanya pada semua hal yang aku temui. Mereka bilang aku ini
gila. Gila karena menanyakan pada waktu. Ya, kini aku hanya bisa memendam rindu
yang sebenarnya hanya mampu memberikan sakit luar biasa. Tapi aku bahagia. Aku
bahagia merindukan pria sepertimu. Setidaknya kamu sempat menghiasi hidupku tanpa
cela. Memberikan warna-warna indah yang sebelumnya tak pernah ku lukis dalam
kanvas kehidupanku. Kamu yang sebenarnya banyak memberikan perubahan padaku,
pada hatiku, fikiranku, dan segalanya.
Ingatanku tentangmu sudah terlampau kuat. Kenangan
yang indah ketika kamu disampingku masih jelas tergambar walaupun dalam
bayang-bayang. Ketika suka cita itu datang, kamu bahkan menjadi bukan kamu.
Kamu sempat menjelma sebagai sumber kebahagiaan dan tawaku. Aku tak mungkin
memungkiri hal itu. Aku jelas ingat ketika tingkahmu yang tolol dan konyol itu
melukis senyum indah di bibirku. Menorehkan ribuan kenangan indah yang memenuhi
pikiranku. Atau mungkin saat kita pergi mencari angin segar bersama. Perhatian
kecilmu itu membuat hatiku mendayu. Perlakuan manismu itu juga membuatku seakan
menjadi tujuanmu. Iya, tujuanmu untuk selamanya. Bukan untuk sementara.
Aku berharap agar kamu dan aku menjadi kita. Menjadi
kita kembali suatu saat nanti. Aku berjanji akan membukakan pintu selebar
mungkin jika kamu kembali. Aku juga berjanji akan mengajakmu untuk melukis
kembali di kanvasku. Kembali mengulang dan membuat kenangan baru sebagai cerita
baru untuk anak-anak kita kelak. Aku akan menunggu hingga suatu saat nanti kamu
akan mencariku lagi. Membutuhkan ku untuk memberi semangat mengawali hari
indahmu seperti sebelumnya. Aku yakin Tuhan akan memberikan bahagia yang luar
biasa suatu saat nanti bersamamu. Karena aku tahu, kamulah kuas yang akan tetap
member warna indah pada hidupku dahulu, sekarang, dan selamanya.
Magelang, 27 Nopember 2013
Annisa Ulfah Miah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar