Jumat, 26 Juni 2015

Kau Buatku Sempurna

Kau berjuang untukku. Iya, aku tahu. Sama, aku juga melakukan hal itu untukmu. Berjuang. Membanting ego agar kita tak terlalu larut dalam keadaan hati yang pecah. Kau berusaha membahagiakanku? Sama. Aku pun demikian. Membuatmu bahagia bagiku adalah kewajiban. Kau sudah seharusnya bahagia bersamaku. Karena kau sudah memilihku, maka kau pun juga wajib untuk mendapatkannya. Kau berusaha menuruti semua yang aku inginkan, bukan? Nah, aku juga tak mau kalah. Aku berusaha keras menuruti semua permintaanmu. Meski aku tahu, aku lebih banyak gagal. Tidak bisa menuruti dengan sempurna. Ah, kalau dibanding denganmu, aku masih kalah jauh. Aku belum ada apa-apa. Sementara kau, kau sudah sempurna. Kau berniat tidak ingin membuatku bekerja membuat air mata. Akupun juga. Tapi yang aku tahu kau tidak terbiasa menangis, bukan? Aku mungkin belum jadi hal yang akan membuatmu menangis selain wanita hebat itu, Ibu. Aku mungkin belum bisa menciptakan kesadaran pada kehidupanmu. Tapi tunggu, semua itu tidak diciptakan dengan air mata. Iya, aku mengerti. Atau aku yang terlalu cengeng menghadapimu? Atau mungkin aku lelah? Atau aku sudah berada pada titik jenuh? Entahlah, akhir-akhir ini adalah hari berat bagiku. Mengapa? Kau tentu tahu, aku sudah tidak berguna. Tak bisa mengembangkan senyum. Membuatmu bahagia seperti biasanya. Mungkin aku memang sudah tidak berguna baik lagi. Ya, sungguh sulit menerima kenyataan bahwa kau sekarang sulit aku genggam. Tak seperti sebelum-sebelumnya. Aku menyadari tanganku sudah tak sekuat dulu untuk menggenggammu. Tak sekokoh dulu. Aku sangat menyadari. 

Lantas, apa mau Tuhan jika kini kita benar-benar didekatkan secara utuh kalau akan berakhir buruk? Lantas apa gunanya? Semuanya tak ada yang kebetulan bukan? Untuk apa kau dan aku berada dalam tempat yang sama kalau akan berakhir pada tempat yang berbeda? Untuk apa kita berjuang mati-matian hingga berdarah-darah kalau berakhir dengan hati yang patah? Untuk apa kita sama-sama merangkai mimpi bahagia kalau hanya berakhir dengan banyak luka? Lantas untuk apa Tuhan tetap membuat kita berada pada satu jalur? Jika hanya untuk mengajari, aku tidak membutuhkanmu. Aku punya banyak hal yang bisa mengajariku tanpamu. Jika hanya untuk menikmati waktu, aku juga tidak membutuhkanmu. Akan lebih baik waktuku untuk mencari sebuah bahagia. Aku membutuhkanmu untuk mengisi waktu. Bukan hanya sekedar menikmati. Tetapi juga ikut dalam hidupku. Tetap tinggal hingga senja tak mampu lagi untuk menyajikan keindahannya. Aku membutuhkanmu untuk hidupku. Sebagai pemimpin. Bukan sebagai pengajar. Aku belum sempurna. Maka, aku membutuhkan uluran tanganmu. Aku selalu yakin akan lebih baik jika ketika pagi datang kau masih disampingku. Akan lebih berarti bila setiap malam kau senantiasa menikmati waktumu untuk bermanja-manja dengaku. Aku membutuhkanmu untuk memyempurnakan hidupku. Kau tahu bukan? Perjalanan kita untuk sampai pada titik ini tidak mudah. Banyak rintangan yang tanpa kita sadari akan membuat salah satu dari kita jatuh. Dan aku ingin seterusnya diantara kita tak ada yang tertinggal. Kau mungkin tahu, jika memang semua ini adalah sebuah kebetulan, mungkin saat ini aku sudah menyerah untukmu. Aku sudah angkat tangan. Kau keras. Kau temperamen. Kau juga punya keinginan yang kuat. Dan aku yakin, tak banyak orang yang tahan menghadapimu. Tapi sungguh, jika memang ini adalah kebetulan, aku tidak mau dipertemukan denganmu. Aku tidak mau lelah menghadapi orang yang keras dan temperament. Aku tidak mau berdarah-darah. Namun, kau tahu? Aku sungguh ingin menjadi sebuah air untuk batu besar. Nah, batu besar itu adalah dirimu. 

Yakinlah, aku sungguh tidak ingin menyerah pada keadaan. Jika memang kau lambat laun membuatku lelah, akan ada semangat baru lagi yang tanpa kamu sadari selalu kamu berikan. Perhatian kecil, atau sebuah kecupan. Sungguh, membuatku ingin tetap tinggal. Aku ingin memghadapimu sampai kau melunak. Tidak ada batu keras yang temperament lagi. Tidak ada keinginanmu yang tak terpenuhi sempurna. Kau harus tahu, aku sungguh ingin hadir sebagai seorang wanita yang tetap ada meski saat kau tidak membutuhkannya sekalipun. Aku ingin jika nanti kau memanggilku, aku bisa langsung berlari ke arahmu. Membelai rambutmu sambil merekahkan senyum. Menuruti keinginanmu hingga kau merasa bahagia. Aku ingin mengabdikan waktuku bersamamu. 

Nah, kau kini mengerti bukan mengapa kita masih bisa berjalan hingga saat ini? Masih bisa bertahan dalam keadaan hati yang runyam? Iya. Karena kita masih mau memperjuangkan satu sama lain. Karena kita sama-sama menyadari bahwa pertemuan ini bukan kebetulan, namun adalah sebuah takdir Tuhan. Yakinlah, aku akan tetap selalu menjadi air bagimu. Sekeras apapun nanti kau menjadi sebuah batu, aku akan tetap berada disamping sebagai air. Hingga kau menyadari bahwa air inilah yang sesungguhnya kau butuhkan. Takkan ada yang mampu membuat kau melunak kecuali aku. Tolong, yakinlah padaku. Berikanlah seluruh hatimu agar aku tak kesulitan lagi menggenggamnya. Aku sungguh tidak ingin menyerah pada orang yang sama sekali tidak ingin menyerah untukku. Kau harus selalu ingat, bahwa aku membutuhkanmu untuk menyempurnakan hidupku.
26 Juni 2015
"Jangan ngambek lagi ya. Ily."
Sincerely, 
Yours.

Sabtu, 30 Mei 2015

Jangan Lelah Untukku



            Sebagai seorang wanita yang dikodratkan mempunyai perasaan yang dalam,sesungguhnya aku sering menyesal. Kau tahu, jika aku mencintai seorang pria saja, semua rasa akan ku berikan tanpa terkecuali. Semuanya, hampir yang tak dia mengerti pun aku berikan. Karena itu aku sering mengumpat, sial! Mengapa wanita dikodratkan memiliki perasaan yang lebih dalam dan peka? Mengapa hanya wanita saja yang sering merasa bahwa hatinya terluka? Mengapa hanya wanita yang kadang mencintai berlebihan? Tuhan memang telah sempurna menciptakan wanita dengan perbandingan perasaan yang lebih berat dibandingkan logika. Tapi mengapa? untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak? Seorang ayah juga bisa menjadi ayah yang baik tanpa harus memiliki bobot perasaan yang lebih berat dari pada logika. Atau untuk menyeimbangkan ketika nanti seorang pria dan wanita bersatu? Sehingga bobot perasaan dan logika bisa seimbang? Pernah aku membaca sebuah buku yang membekas. Tak usahlah aku sebutkan apa judulnya dan siapa pengarangnya. Yang jelas, dia adalah orang hebat. Dalam buku itu mengatakan bahwa wanita memang berhak atas perasaan yang dalam. Berhak untuk merasakan dalamnya palung hati seorang pria. Berhak atas air mata yang tumpah ruah. Air mata? Kau tahu betapa banyak air mata yang sudah aku tumpahkan hanya untuk merasakan ini semua. Kadang aku mengumpat hebat! Kata-kata kasar sering keluar ketika harus menyadari sebuah nasib seorang wanita. Mengapa hanya wanitalah yang berhak untuk merasakan dalamnya palung hati seorang pria? Mengapa pria tidak melakukan hal yang sama? Tidak adil? Memang. Sangat tidak adil malah.

            Sungguh jika boleh memilih, balikan saja Tuhan perasaan seorang wanita menjadi perasaan seorang pria dan sebaliknya. Buatlah mereka yang mencintai sedalam-dalamnya palung hati seorang wanita. Buatlah mereka yang merasa terampas bahagianya. Buatlah mereka yang menangis semalaman hingga lampu kamar sama sekali tak mau dihidupkan. Buatlah mereka yang terbata-bata membaca isi hati seorang wanita. Balikan saja Tuhan. Bah! Sama sekali tak akan terbalik. Memangnya dunia ini milikku sendiri? Bukan kan! Ada tangan Tuhan yang luar biasa disana. Dan kembali lagi, perasaan tidak bisa dibalikkan. Sekali lagi, ini adalah kodrat. Mungkin akulah satu-satunya wanita egois yang sibuk memikirkan sebuah perasaan. Mungkin hanya aku yang entah hidupnya terasa kurang bila belum mengobrak-abrik kata bernama perasaan. Iya, mungkin cuma aku.

            Sering kali aku berpikir kodrat yang sungguh tidak adil. Namun, aku tahu mengapa Tuhan menciptakannya demikian. Kini, Dia sudah membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya orang jatuh cinta. Tuhan memaksa perasaanku yang harus menyelami palung hati seorang pria. Tuhan juga memaksaku untuk terus merasakan bagaimana bahagianya menjadi seorang wanita. Seorang wanita dengan perasaan yang utuh. Dia benar-benar memberiku sebuah jawaban tentang apa yang sudah sangat aku sesali. Dia membuatku berpikir berulang kali untuk bisa menyerah pada seorang pria. Dia membuatku mengerti. Sungguh bagaimana aku harus mencurahkan semua perasaan yang dalam ini kepada seorang pria. Sialnya, Dia membuatku jatuh cinta padamu. Tanpa sepengetahuanku, tanpa aku ketahui, ternyata perasaan dalam yang Tuhan ciptakan pada seorang wanita itu sungguh bisa mengubah betapa kerasnya hati seorang pria. Bisa meluluhkan hati yang benar-benar kokoh terkendali. Hebat! Tuhan menciptakan perasaan yang sungguh hebat pada seorang wanita. Maaf, umpatan kemarin adalah bentuk kekesalan, Tuhan. Tak ada maksud sama sekali untuk mencabutnya, sungguh. 

            Kini aku tahu, jika perasaan yang dalam ini dipergunakan dengan baik, akan bisa mengubah banyak hal. Dari yang keras menjadi lembut. Dari yang merasa terbuang menjadi disayang. Dari yang mulai lelah menjadi bisa bertahan. Hebat! Sebuah perasaan yang hebat! Dan kini aku mau mempergunakan perasaan ini untukmu. Agar aku lebih bisa menghargaimu. Agar tak ada lagi sifat egoisme yang manjadi selimut. Tenang, aku sudah belajar banyak tentang perasaan. Semoga tidak sia-sia. Jika aku boleh memilih sekali lagi, aku sungguh ingin tak ada yang harus kita perdebatkan setiap hari. Tak ingin kau merasa kurang setiap kali aku menuntut. Aku tak ingin melihatmu kembali merasakan sakit luar biasa itu, tidak. Aku tidak ingin juga kau berhenti untukku hanya karena ini. Aku tidak mau melihatmu bersusah payah membangun mimpi kita sendirian. Tidak akan ku biarkan tanganmu yang kuat itu menjai gontai. Dadamu yang gagah itu tak akan ku biarkan kosong. Sampai senja menentang pun, itu akan tetap jadi tempatku hingga nanti. Hingga nafas ini terputus. Yakinlah, jika nanti jari kita tidak bisa bersatu lagi, jika nanti setiap pagi kau tidak bisa kembali melihatku lagi, itu bukan karena aku pergi. Tetapi sebaliknya. Karena kau yang sudah lelah dan memilih mundur. Tapi aku yakin, kita bukan orang yang seperti itu, bukan? Kita akan selalu berada pada sejalur. Tak peduli bagaimana nanti semua isi bumi menentang hebat. Tak peduli bahwa nanti waktu kita sudah mati-matian diambil Tuhan. Aku yakin kau akan tetap hadir sesempurna pria yang paling sempurna. Tak akan digantikan. 

            Jadi, bila nanti kau sudah lelah, berikanlah tanganmu padaku. Akan aku genggam erat hingga hangatnya merasuk. Akan aku peluk tubuhmu hingga kau benar-benar yakin bahwa takkan ada tokoh yang meninggalkan dan ditinggal dalam kisah kita. Aku pastikan takkan terjadi. Sekeras-kerasnya nanti banyak yang menentang. Kita juga harus menentang meski hanya berdua.

Annisa Ulfah Miah
31 May 2015

Jumat, 08 Mei 2015

Janji



            Akhir-akhir ini aku banyak menghabiskan waktu untuk sekedar menatap langit. Kau tahu kenapa? Bulan akhir-akhir ini sempurna bulat. Indah sekali. Rasanya bila ditatap berdua aku sungguh tidak ingin bergeser. Sedikitpun tak akan. Menyandarkan kepalaku sambil bersenandung manja. Kau pasti juga akan merasakan hal yang sama bukan? Jika terpaan angin itu menghempas tubuhku, aku yakin kau pasti akan menangkisnya segera. Kau pasti takkan rela wanitamu ini menggigil kedinginan. Kau tahu? Entah sampai kapan kau akan tetap disamping walau kau selalu berkata untuk selamanya. Untuk seterusnya. Sungguh jika nanti kita benar-benar terpaksa terpisah karena jarak dan waktu masih maukah kau menangkis dingin yang menerpa? Masih maukah kau sekedar melindungiku? Kita sama sama tidak mengerti bagaimana waktu mengatur segalanya. Namun jika diijinkan aku sungguh tidak ingin kau hilang dari depan mata. Lenyap begitu saja dan pergi. Tidak akan aku biarkan. Sekuat apapun nanti aku sungguh ingin selalu berdua. Apakah kau juga demikian? aku sudah yakin aku memilih seorang pria yang tepat dalam hidupku. Sebagai seorang wanita yang sudah beranjak dewasa, tidak banyak lagi yang akan aku lakukan. Aku ingin menyelesaikan studiku dengan baik. Mempertahankan seorang pria yang memang suah menjadi pilihanku. Tidak untuk yang lain. Banyak beban yang masih aku pikul. Dan perlahan-lahan aku sungguh ingin melepasnya pada waktu yang tepat. Melepasnya bukan berarti membuang atau meninggalkan. Tetapi berusaha untuk menjadikan sebuah bahagia. Bukan sebuah beban.

            Dan kau sebagai pria yang aku pilih, aku sungguh berharap banyak padamu. Tidak ingin banyak bicara. Aku hanya ingin mempertahankan seorang saja. Setelah semua studiku berakhir dengan hebat, tak akan ada lagi keinginan selain membahagiakanmu dan orang-orang disekitarku tentu. Mewujudkan semua impian kita yang menggunung. Saling berusaha dan berdoa. Aku yakin, jika kau memang sudah tepat. Sudah layak untuk menggandeng lenganku berdua. Aku sudah yakin. Lantas mau apa lagi? Aku sungguh tidak ingin kau hilang. Kali ini aku benar-benar ketakutan. Mengapa? banyak hal rancu dan buruk selalu merasuk pikiran. Genggaman erat yang selalu engkau berikan itu sungguh akan selalu terikat kuat. Aku tidak akan rela jika ada tangan wanita lain yang kau genggam. Sungguh tak akan. Akan aku lakukan segala cara untuk membuatmu tetap berada isamping. Apapun itu. Kau tahu? Ketakutan ini semakin menguat. Sungguh aku hanya bisa mendongak membaca untaian doa yang selalu sama. Menyelipkan namamu dan impian kita. Bahkan ketika kita sedang shalat berdua. Kau tahu bukan, aku selalu menjadi yang terakhir. Kau tahu apa yang menjadi doaku? Ketika kau duduk didepanku mengumanangkan takbir. Mengajak sujud bersama. Hingga aku mencium tanganmu dan kau mencium keningku, kau tahu bagaimana rasanya? Luar biasa! Sungguh mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia. 

            Aku hanya berharap satu padamu dan itu selalu sama. Tak akan berbeda. Sesulit apapun nanti kau suah berjanji akan tetap disampingku. Ketika aku jatuh. Ketika aku tersungkur. Kau sudah berjanji akan menarik lenganku. Kau bisa membuktikan semuanya bukan? Aku percaya kau adalah pria yang berbeda. Aku yakin kau memang sudah ada untukku. Jadi, mari kita berusaha berdua. Mari kita membuat jejak untuk impian kita. Mari kita buat hidup kita lebih berarti satu sama lain. Kau mau melakukannya bukan? Mari kita wujukan semua yang masih semu. Kita buat angin yang menerpa kita sebagai sebuah pendorong bukan penghambat. Kita sama-sama yakin bukan? Jadi biarkan sekarang Tuhan yang bekerja bahwa sebuah hasil tak akan menghianati usahanya. Kau tetap ingin bertahan? Baiklah. Genggam tanganku dan serukan bahwa kita akan melewati semua dengan mudah. Rangkul bila kau sungguh tak ingin kehilangan. Dan selipkan aku dalam semua doamu agar kita tetap bisa berjalan walau dalam padang duri. Mari kita lakukan.


You don’t know what I feel now. But I’m sure you are that I need.
Annisa Ulfah Miah
8 Mei 2015

Jumat, 13 Maret 2015

Pertemuan di Perbatasan



                Kami hadir ketika hari sudah beranjak senja. Ketika matahari sudah berada di ufuk yang tentu saja tidak akan berjalan kembali keatas. Kami berada di perbatasan. Entah berapa lama lagi akan tenggelam, atau entah sampai kapan akan terus berdiri tanpa tujuan. Kami berada di antara laut dan udara. Begitulah kami. Ada di perbatasan. Menyesal mengapa tak sejak matahari muncul dari ufuk timur. Mengapa tak sejak tadi ada di daratan. Kadang hanya bisa menyesal. Menghela nafas. Ya, begitulah. Pertemuan memang tidak selalu tepat pada waktunya. Mungkin, Tuhan punya alasan atas pertemuan di perbatasan.
                Kami berdua berani menyatu dalam satu jalan. Berani bersama dalam satu tujuan. Meski kami tau, kaki kami yang sebelah tentu saja sudah menapaki air. Yang satunya menapaki tanah. Sudah berbeda. Waktu yang kami miliki untuk memutuskan bersatu tidak banyak. Kami harus bersaingan dengan senja yang mau tak mau selalu ingin “pergi”. Kami harus pandai membagi waktu agar kami tidak ikut tenggelam bersama senja. Tidak ikut terbawa air seperti kaki sebelah kami. Kami harus mengatur strategi. Bagaimanapun, keputusan untuk bersatu adalah sebuah komitmen. Sedalam apapun nanti senja akan tenggelam, sejauh apapun nanti tubuh kami terbawa air. Tangan kami harus tetap bergandengan. Tidak peduli akan seberapa  jauh jarak terbentang. Yang jelas, kami tetap menumbuhkan komitmen. Tidak mau jika harus mengalah pada senja. Tidak! Sia-sia saja semua yang sudah kami lakukan selama ini. Senja pasti tidak akan cukup kuat menenggelamkan kami hingga dasar. Kami yakin. Toh, senja tidak punya kaki tangan seperti kami. Tentu saja dia tidak bisa menghalangi kami bukan? Nah, seharusnya kami lebih kuat dari senja.
                Ingin tahu bagaimana rasanya bertemu di perbatasan? Jika boleh memilih, tentu saja kami tidak ingin bertemu di perbatasan. Kami ingin bertemu sejak awal. Kau tahu? Bertemu di perbatasan tidak bisa dinikmati. Selalu tergesa. Tak ingin kalah dengan senja. Selalu begitu. Dan yang paling menjadi beban pikiran adalah jika nanti waktu perbatasan kami sudah habis. Apakah kami bisa bertahan? Apakah komitmen kami masih bisa tetap dijalankan? Itu satu-satunya yang menjadi beban pikiran yang paling berat. Kau tahu tidak bagaimana rasanya teramat sayang pada waktu yang salah? Nah, ini yang kami rasakan juga. Sedikit kecewa. Kenapa tidak dari dulu. Nah, berkali kali mungkin kami sudah mengumpat demikian. Tapi sekali lagi, matahari pun tidak pernah selalu diatas bukan? Sama halnya dengan kami, pertemuan di perbatasan juga tidak akan selalu berakhir di perbatasan. Dan kami akan selalu yakin bahwa kami akan berakhir di muara. Tempat yang jauh. Abadi. Dan tentu saja, tempat segala komitmen kami berlabuh.
                Sewajarnya, jika memang waktu di perbatasan kami adalah waktu terbaik bagi pertemuan, kami mungkin akan menerima dengan senang hati. Bersyukur. Memaki dalam diri bahwa selama ini salah. Tapi masalahnya, kami belum tahu ujung dari ini semua. Akankah, sebuah muara, atau hanya tenggelam tanpa pesan. Tidak ada yang bertahan. Pasrah saja ketika ombak menggulung. Tidak ada komitmen yang semakin menguat. Kami tidak tahu, siapa diantara kami yang akan menjadi penguat. Dan siapa yang akan dikuatkan. Kami buta. Tidak tahu menahu. Bertemu meski hanya diperbatasan saja sudah bersyukur. Layaknya di pertemukan di awal, kami harus bisa bertahan. Lebih tepatnya tetap mempertahankan satu komitmen. Untuk tetap menyatu. Tanpa berpisah. Sesulit apapun nantinya.
                Nah, untuk bertahan dari ini semua kami tidak hanya membutuhkan rasa untuk mengalahkan senja. Menerjang ombak yang menggulung. Mempererat genggaman tangan, atau yang lainnya. Bertahan tidak hanya demikian. Tapi, bagaimana kami bisa menjadi sebuah matahari. Bukan hanya senja. Jadi, kami hadir setiap saat. Tak mengenal waktu. Seperti apa yang kami inginkan. Nah, bagaimana lagi jika memang kami tidak bisa melakukan banyak hal. Mengintip malam? Tentu saja kami takut, kedua kaki kami sudah menapak air. Kami takut salah satu dari kami tertinggal. Tidak mau. Jangan sampai. Kami sudah merelakan kaki sebelah kami menapaki air. Dan tolong jangan minta semuanya. Kami masih harus menyusun strategi bagaimana kami bisa melewati waktu di perbatasan. Sekali lagi, kami hanya tidak mau pertemuan ini berhenti di perbatasan. Mengerti?
                Jadi, kami masih terus bertahan. Bertahan dalam keadaan yang sebenarnya tidak memaksa, namun sulit. Keadaan dimana sebenarnya kami harus mempertahankan diri agar tidak tenggelam bersama senja. Atau kami harus siap diobrak-abrik oleh ombak. Sejujurnya, kami ingin merasakan bagaimana bertemu pada waktu yang tepat. Agar kami tidak perlu bersusah payah untuk mempertahankan. Tapi tunggu, ada baiknya juga kami dipertemukan di perbatasan. Karena dengan ini, kami bisa belajar menjadi penguat. Belajar bertahan pada sebuah komitmen yang sudah diciptakan. Nah, sekarang, kami hanya perlu tetap menguatkan satu sama lain hingga nanti tidak ada lagi yang harus dikuatkan. Hingga kami sudah terpisah jauh berbeda dimensi. Kami masih bisa saling berkomunikasi. Dengan doa. Semoga. Semoga muara adalah tempat kami. Tempat semua komitmen kami terkumpul. Tumbuh indah. Hingga mengembang. Dan kami, masih bisa bergandengan. Memperlihatkan pada senja dan ombak dengan gagah. Bahwa kami bisa melewatinya dengan bahagia.
Because I never feel complete If I life without you, baymax.”




Annisa Ulfah
12 Maret 2014

Sabtu, 07 Maret 2015

Ujung Dari Waktu Terbaik





                Kau tahu? Ingin rasanya aku kembali ke masa dimana problematika yang dihadapi tak sedalam ini. Tak menyangkut batin. Hanya logika.  Tak perlu aku berpikir panjang untuk menemukan ujungnya. Kadang, aku merasa rindu tertawa bebas. Menghadapkan wajah ke langit dengan mulut menganga, riang. Rindu merasakan mata berair karena terlalu banyak hal yang harus ditertawakan. Rindu juga bergandengan bersama. Mengenal satu dengan yang lain. Menjalin persahabatan erat. Nah, kadang aku merindukan masa itu. Masa dengan problematika rendah. Tapi aku bisa apa? Rasanya untuk kembali pun tidak akan mungkin. Mesin waktu sebaik apapun tak akan ada yang bisa menggeser takdir Tuhan, bukan? Sekalipun ada, apa bisa mengembalikan? Tuhan tentu tak akan memberi izin. Mau apa? Tuhan sudah jelas-jelas bekerja sesuai rencana-Nya. Berharap waktu semakin berlalu menjadi semakin baik. Tak peduli akan seberapa berat rintangan untuk menjadi “baik”. Akan seberapa lelah memperjuangkan. Bagi Tuhan, yang jelas Ia sudah bekerja sesuai dengan rencana-Nya. Memperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki. Meninggalkan apa yang seharusnya ditinggalkan. Serta mempertahankan apa yang harus dipertahankan. Sebenarnya, maksud Tuhan sederhana. Hanya mengajarkan untuk menjadi lebih baik. Dan kau kembali benar dalam hal ini, komandan.
                Suasana seperti ini, rasa-rasanya sungguh tidak bisa berhenti menyeretku dari problematika kita. Pernah aku merasa tidak ingin memikirkannya. Pasrah. Ingin berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. Semakin menjauh malah semakin menguat. Semakin aku tangkis, malah semakin keras aku ditamparnya. Kau tahu, jika itu semua hanya sebuah tumpukan buku-buku tebal, ingin rasanya aku lempar jauh. Entah terbanting pada tembok, entah pada batu, yang jelas hingga hancur. Agar tak ada lagi problematika sedalam ini. Agar aku bisa merobek dinding waktu. Meminta izin pada Tuhan untuk melesatkannya, tanpa pandang bulu. Tapi sekali lagi, mau apa? Toh, ucapanku tak akan bisa mengubah apapun. Sekeras apapun buku tebal ini aku lempar, palingan hanya rusak. Sobek sedikit di ujung. Tak bisa hancur sempurna. Sama seperti dinding jarak yang akan kita hadapi kelak. Bah! Pikiran carut marut yang aku hadapi sungguh menguras. Dan aku hanya bisa diam. Menatap tumpukan buku tebal di hadapan. Menikmati detik jam yang semakin lama semakin mengeras. Membayangkan waktu-waktu terbaik. Nah, waktu-waktu terbaik? Belum, itu belum berujung. Bahkan baru dimulai. Dan entah, apakah waktu terbaik lainnya masih bisa aku wujudkan? Kau benar, akan ada hal buruk di sebaik apapun rencana kita.
                Nah, mau dikatakan bagaimanapun, hal buruk pasti terjadi. Aku tidak ingin membuat hal buruk itu sebagai penghancur. Melainkan sebagai penguat. Agar kita tetap berada pada satu jalur. Bukankah kau sudah memintaku untuk menjadi penguatnya? Nah, kali ini aku tegaskan, aku mau. Aku akui, aku memang belum bisa menjadi penguat yang sempurna. bahkan kadang aku merasa, aku masih belum bisa memilikimu sepenuhnya. Entahlah, aku tidak mengerti apa yang harus aku katakan kali ini. Yang jelas, aku hanya ingin kau agar dijaga-Nya. Dipermudah atas segala urusan.  Dilindungi dari segala hal buruk  yang datang. Aku hanya ingin kau tumbuh menjadi manusia terbaik. Entah dengan atau tanpa aku, nantinya. Aku sudah banyak berdoa untukmu. Sejak pertemuan pertama kita tempo hari. Tapi tunggu, aku ingin kau mengetahui satu hal. Aku ingin kau tetap disamping. Seburuk apapun kondisi kita nanti. Sekuat-kuatnya Tuhan meminta salah satu dari kita berhenti, itupun karena melepaskan dengan lembut. Bukan memaksa. Melepaskan karena kepergian yang memang sudah waktunya. Sudah diambil oleh-Nya. Bukan kepergian karena orang lain. Jangan sampai. Aku juga selalu menyertai doaku dengan waktu terbaik kita, selama apapun waktu itu akan kita rasakan. Tenang saja, aku akan tetap berdiri dengan senyum disampingmu. Tak menggubris hal-hal yang bagiku sungguh tak penting. Yang aku mau adalah kita berdua hadir dalam waktu terbaik. Jangan tanyakan padaku bila waktu terbaik itu tak terjadi. Aku sungguh ingin melompati bagian itu. Tak ingin aku mengetahuinya sedikitpun. Menyentuhnya apalagi. Sungguh, tak akan. Hahaha aku memang pengecut, komandan. Aku tidak ingin melihat sisi buruk dari sebuah kehidupan. Enggan menerima. Kau tahu alasannya? Karena aku sudah lama terjebak pada sisi buruk. Tak ingin kembali lagi. Aku sudah lelah. Terima kasih banyak komandan, kau memberiku sebuah sisi baik yang berharga. Dan semoga ini menjadi seterusnya. Sumpah! Bawa aku selalu pada sisi baik. Bisakah?
Nah, coba bayangkan, ini adalah ujung dari waktu terbaik kita.
                “Senja itu, aku melihat kau bercahaya terpapar sinar matahari sore. Dengan rambut yang memutih. Dengan sebuah tongkat yang kau genggam erat di tangan kanan. Kau duduk menatap matahari yang tenggelam. Aku berjalan pelan, menghampirimu yang dengan damai menatap matahari senja. Aku usap belakang punggungmu. Memberikan senyuman ramah. Kau menoleh sambil membenarkan kacamata berlensa tebal itu. Seperti biasanya, kau merangkul tubuhku yang sudah mulai ringkih. Ah iya, menatap senja bersama adalah kebiasaan kita. Sesekali pikiran kita tertuju pada arah yang sama. Waktu ketika kita begitu takut untuk melewatinya. Masa itu, ingat? Ketika kita mati-matian berserah. Tidak ingin mengetahui bagaimana jalannya. Yang penting aku denganmu. Kau denganku. Ah, selayaknya seorang yang sudah tua memang memiliki daya ingat rendah. Namun, itu sungguh tidak terjadi pada kita. Hingga tubuh seringkih ini. Wajah yang sudah mengeriput, kita tetap mengingat sebuah perjalan. Kita masih bsia menjadi penguat. Hingga saat ini. Hingga aku sudah tidak bisa memakai jilbab sendiri. Hingga tanganmu yang juga renta itu membantuku untuk memakaikannya. Dan ketika bibirmu menyium keningku yang semula kuat dan tegas, kini lama-lama sudah melemah. Otot wajah sudah tidak bisa bekerja dengan baik. Namun, satu hal tidak berubah. Kehangatannya sungguh tetap sempurna.
                Senja ini, ketika kita sudah berhasil mewujudkan semua yang memang harus kita wujudkan. Kita berdiri disebuah rumah yang indah. Di sebuah Negara impian kita berdua. Tinggal dengan ceria bersama anak-anak kita. Hingga kini, semua yang sebelumnya hanya sebuah angan, sudah kita wujudkan. Aku menggenggam tanganmu yang bergetar. Aku satukan. Aku cium. Sebagai rasa hormat. Aku berterimakasih kau sudah usahakan kita selalu dalam sisi baik. Kau sudah mati-matian. Dan biarkan kini aku juga merawatmu. Hingga nanti kau atau aku yang akan melepaskan dengan lembut.”
                Pastikan, bahwa kau juga membayangkannya sama sepertiku. Kau juga merasakan bagaimana bahagianya kita berdua. Bagaimana rasanya kalau kita saling berusaha untuk tetap berada pada satu jalur. Sesulit apapun nanti, sungguh aku ingin itulah ujung dari waktu terbaik kita. Jangan pernah menyerah kepadaku. Karena aku tak akan melakukan hal itu kepadamu. Tenang, aku akan tetap berdiri disamping. Berjalan gagah seperti biasanya. Selalu. Hingga kau sudah tak membutuhkanku lagi, kelak. Baru aku akan berhenti. Tetapi, aku tahu, kau takkan pernah memintaku demikian. Semoga. Semoga ujung terbaik kita adalah bahagia.

Annisa Ulfah
8 Maret 2015