Kau berjuang untukku. Iya, aku tahu. Sama, aku juga melakukan hal itu untukmu. Berjuang. Membanting ego agar kita tak terlalu larut dalam keadaan hati yang pecah. Kau berusaha membahagiakanku? Sama. Aku pun demikian. Membuatmu bahagia bagiku adalah kewajiban. Kau sudah seharusnya bahagia bersamaku. Karena kau sudah memilihku, maka kau pun juga wajib untuk mendapatkannya. Kau berusaha menuruti semua yang aku inginkan, bukan? Nah, aku juga tak mau kalah. Aku berusaha keras menuruti semua permintaanmu. Meski aku tahu, aku lebih banyak gagal. Tidak bisa menuruti dengan sempurna. Ah, kalau dibanding denganmu, aku masih kalah jauh. Aku belum ada apa-apa. Sementara kau, kau sudah sempurna. Kau berniat tidak ingin membuatku bekerja membuat air mata. Akupun juga. Tapi yang aku tahu kau tidak terbiasa menangis, bukan? Aku mungkin belum jadi hal yang akan membuatmu menangis selain wanita hebat itu, Ibu. Aku mungkin belum bisa menciptakan kesadaran pada kehidupanmu. Tapi tunggu, semua itu tidak diciptakan dengan air mata. Iya, aku mengerti. Atau aku yang terlalu cengeng menghadapimu? Atau mungkin aku lelah? Atau aku sudah berada pada titik jenuh? Entahlah, akhir-akhir ini adalah hari berat bagiku. Mengapa? Kau tentu tahu, aku sudah tidak berguna. Tak bisa mengembangkan senyum. Membuatmu bahagia seperti biasanya. Mungkin aku memang sudah tidak berguna baik lagi. Ya, sungguh sulit menerima kenyataan bahwa kau sekarang sulit aku genggam. Tak seperti sebelum-sebelumnya. Aku menyadari tanganku sudah tak sekuat dulu untuk menggenggammu. Tak sekokoh dulu. Aku sangat menyadari.
Lantas, apa mau Tuhan jika kini kita benar-benar didekatkan secara utuh kalau akan berakhir buruk? Lantas apa gunanya? Semuanya tak ada yang kebetulan bukan? Untuk apa kau dan aku berada dalam tempat yang sama kalau akan berakhir pada tempat yang berbeda? Untuk apa kita berjuang mati-matian hingga berdarah-darah kalau berakhir dengan hati yang patah? Untuk apa kita sama-sama merangkai mimpi bahagia kalau hanya berakhir dengan banyak luka? Lantas untuk apa Tuhan tetap membuat kita berada pada satu jalur? Jika hanya untuk mengajari, aku tidak membutuhkanmu. Aku punya banyak hal yang bisa mengajariku tanpamu. Jika hanya untuk menikmati waktu, aku juga tidak membutuhkanmu. Akan lebih baik waktuku untuk mencari sebuah bahagia. Aku membutuhkanmu untuk mengisi waktu. Bukan hanya sekedar menikmati. Tetapi juga ikut dalam hidupku. Tetap tinggal hingga senja tak mampu lagi untuk menyajikan keindahannya. Aku membutuhkanmu untuk hidupku. Sebagai pemimpin. Bukan sebagai pengajar. Aku belum sempurna. Maka, aku membutuhkan uluran tanganmu. Aku selalu yakin akan lebih baik jika ketika pagi datang kau masih disampingku. Akan lebih berarti bila setiap malam kau senantiasa menikmati waktumu untuk bermanja-manja dengaku. Aku membutuhkanmu untuk memyempurnakan hidupku. Kau tahu bukan? Perjalanan kita untuk sampai pada titik ini tidak mudah. Banyak rintangan yang tanpa kita sadari akan membuat salah satu dari kita jatuh. Dan aku ingin seterusnya diantara kita tak ada yang tertinggal. Kau mungkin tahu, jika memang semua ini adalah sebuah kebetulan, mungkin saat ini aku sudah menyerah untukmu. Aku sudah angkat tangan. Kau keras. Kau temperamen. Kau juga punya keinginan yang kuat. Dan aku yakin, tak banyak orang yang tahan menghadapimu. Tapi sungguh, jika memang ini adalah kebetulan, aku tidak mau dipertemukan denganmu. Aku tidak mau lelah menghadapi orang yang keras dan temperament. Aku tidak mau berdarah-darah. Namun, kau tahu? Aku sungguh ingin menjadi sebuah air untuk batu besar. Nah, batu besar itu adalah dirimu.
Yakinlah, aku sungguh tidak ingin menyerah pada keadaan. Jika memang kau lambat laun membuatku lelah, akan ada semangat baru lagi yang tanpa kamu sadari selalu kamu berikan. Perhatian kecil, atau sebuah kecupan. Sungguh, membuatku ingin tetap tinggal. Aku ingin memghadapimu sampai kau melunak. Tidak ada batu keras yang temperament lagi. Tidak ada keinginanmu yang tak terpenuhi sempurna. Kau harus tahu, aku sungguh ingin hadir sebagai seorang wanita yang tetap ada meski saat kau tidak membutuhkannya sekalipun. Aku ingin jika nanti kau memanggilku, aku bisa langsung berlari ke arahmu. Membelai rambutmu sambil merekahkan senyum. Menuruti keinginanmu hingga kau merasa bahagia. Aku ingin mengabdikan waktuku bersamamu.
Nah, kau kini mengerti bukan mengapa kita masih bisa berjalan hingga saat ini? Masih bisa bertahan dalam keadaan hati yang runyam? Iya. Karena kita masih mau memperjuangkan satu sama lain. Karena kita sama-sama menyadari bahwa pertemuan ini bukan kebetulan, namun adalah sebuah takdir Tuhan. Yakinlah, aku akan tetap selalu menjadi air bagimu. Sekeras apapun nanti kau menjadi sebuah batu, aku akan tetap berada disamping sebagai air. Hingga kau menyadari bahwa air inilah yang sesungguhnya kau butuhkan. Takkan ada yang mampu membuat kau melunak kecuali aku. Tolong, yakinlah padaku. Berikanlah seluruh hatimu agar aku tak kesulitan lagi menggenggamnya. Aku sungguh tidak ingin menyerah pada orang yang sama sekali tidak ingin menyerah untukku. Kau harus selalu ingat, bahwa aku membutuhkanmu untuk menyempurnakan hidupku.
26 Juni 2015
"Jangan ngambek lagi ya. Ily."
Sincerely,
Yours.
Jumat, 26 Juni 2015
Sabtu, 30 Mei 2015
Jangan Lelah Untukku
Sebagai
seorang wanita yang dikodratkan mempunyai perasaan yang dalam,sesungguhnya aku
sering menyesal. Kau tahu, jika aku mencintai seorang pria saja, semua rasa
akan ku berikan tanpa terkecuali. Semuanya, hampir yang tak dia mengerti pun
aku berikan. Karena itu aku sering mengumpat, sial! Mengapa wanita dikodratkan
memiliki perasaan yang lebih dalam dan peka? Mengapa hanya wanita saja yang
sering merasa bahwa hatinya terluka? Mengapa hanya wanita yang kadang mencintai
berlebihan? Tuhan memang telah sempurna menciptakan wanita dengan perbandingan
perasaan yang lebih berat dibandingkan logika. Tapi mengapa? untuk menjadi ibu
yang baik bagi anak-anaknya kelak? Seorang ayah juga bisa menjadi ayah yang
baik tanpa harus memiliki bobot perasaan yang lebih berat dari pada logika. Atau
untuk menyeimbangkan ketika nanti seorang pria dan wanita bersatu? Sehingga bobot
perasaan dan logika bisa seimbang? Pernah aku membaca sebuah buku yang
membekas. Tak usahlah aku sebutkan apa judulnya dan siapa pengarangnya. Yang jelas,
dia adalah orang hebat. Dalam buku itu mengatakan bahwa wanita memang berhak
atas perasaan yang dalam. Berhak untuk merasakan dalamnya palung hati seorang
pria. Berhak atas air mata yang tumpah ruah. Air mata? Kau tahu betapa banyak
air mata yang sudah aku tumpahkan hanya untuk merasakan ini semua. Kadang aku
mengumpat hebat! Kata-kata kasar sering keluar ketika harus menyadari sebuah
nasib seorang wanita. Mengapa hanya wanitalah yang berhak untuk merasakan dalamnya
palung hati seorang pria? Mengapa pria tidak melakukan hal yang sama? Tidak adil?
Memang. Sangat tidak adil malah.
Sungguh
jika boleh memilih, balikan saja Tuhan perasaan seorang wanita menjadi perasaan
seorang pria dan sebaliknya. Buatlah mereka yang mencintai sedalam-dalamnya
palung hati seorang wanita. Buatlah mereka yang merasa terampas bahagianya. Buatlah
mereka yang menangis semalaman hingga lampu kamar sama sekali tak mau dihidupkan.
Buatlah mereka yang terbata-bata membaca isi hati seorang wanita. Balikan saja
Tuhan. Bah! Sama sekali tak akan terbalik. Memangnya dunia ini milikku sendiri?
Bukan kan! Ada tangan Tuhan yang luar biasa disana. Dan kembali lagi, perasaan
tidak bisa dibalikkan. Sekali lagi, ini adalah kodrat. Mungkin akulah
satu-satunya wanita egois yang sibuk memikirkan sebuah perasaan. Mungkin hanya
aku yang entah hidupnya terasa kurang bila belum mengobrak-abrik kata bernama
perasaan. Iya, mungkin cuma aku.
Sering
kali aku berpikir kodrat yang sungguh tidak adil. Namun, aku tahu mengapa Tuhan
menciptakannya demikian. Kini, Dia sudah membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya
orang jatuh cinta. Tuhan memaksa perasaanku yang harus menyelami palung hati
seorang pria. Tuhan juga memaksaku untuk terus merasakan bagaimana bahagianya
menjadi seorang wanita. Seorang wanita dengan perasaan yang utuh. Dia
benar-benar memberiku sebuah jawaban tentang apa yang sudah sangat aku sesali. Dia
membuatku berpikir berulang kali untuk bisa menyerah pada seorang pria. Dia
membuatku mengerti. Sungguh bagaimana aku harus mencurahkan semua perasaan yang
dalam ini kepada seorang pria. Sialnya, Dia membuatku jatuh cinta padamu. Tanpa
sepengetahuanku, tanpa aku ketahui, ternyata perasaan dalam yang Tuhan ciptakan
pada seorang wanita itu sungguh bisa mengubah betapa kerasnya hati seorang
pria. Bisa meluluhkan hati yang benar-benar kokoh terkendali. Hebat! Tuhan
menciptakan perasaan yang sungguh hebat pada seorang wanita. Maaf, umpatan kemarin
adalah bentuk kekesalan, Tuhan. Tak ada maksud sama sekali untuk mencabutnya,
sungguh.
Kini
aku tahu, jika perasaan yang dalam ini dipergunakan dengan baik, akan bisa
mengubah banyak hal. Dari yang keras menjadi lembut. Dari yang merasa terbuang
menjadi disayang. Dari yang mulai lelah menjadi bisa bertahan. Hebat! Sebuah perasaan
yang hebat! Dan kini aku mau mempergunakan perasaan ini untukmu. Agar aku lebih
bisa menghargaimu. Agar tak ada lagi sifat egoisme yang manjadi selimut. Tenang,
aku sudah belajar banyak tentang perasaan. Semoga tidak sia-sia. Jika aku boleh
memilih sekali lagi, aku sungguh ingin tak ada yang harus kita perdebatkan
setiap hari. Tak ingin kau merasa kurang setiap kali aku menuntut. Aku tak
ingin melihatmu kembali merasakan sakit luar biasa itu, tidak. Aku tidak ingin
juga kau berhenti untukku hanya karena ini. Aku tidak mau melihatmu bersusah
payah membangun mimpi kita sendirian. Tidak akan ku biarkan tanganmu yang kuat
itu menjai gontai. Dadamu yang gagah itu tak akan ku biarkan kosong. Sampai senja
menentang pun, itu akan tetap jadi tempatku hingga nanti. Hingga nafas ini
terputus. Yakinlah, jika nanti jari kita tidak bisa bersatu lagi, jika nanti
setiap pagi kau tidak bisa kembali melihatku lagi, itu bukan karena aku pergi. Tetapi
sebaliknya. Karena kau yang sudah lelah dan memilih mundur. Tapi aku yakin,
kita bukan orang yang seperti itu, bukan? Kita akan selalu berada pada sejalur.
Tak peduli bagaimana nanti semua isi bumi menentang hebat. Tak peduli bahwa
nanti waktu kita sudah mati-matian diambil Tuhan. Aku yakin kau akan tetap
hadir sesempurna pria yang paling sempurna. Tak akan digantikan.
Jadi,
bila nanti kau sudah lelah, berikanlah tanganmu padaku. Akan aku genggam erat
hingga hangatnya merasuk. Akan aku peluk tubuhmu hingga kau benar-benar yakin
bahwa takkan ada tokoh yang meninggalkan dan ditinggal dalam kisah kita. Aku pastikan
takkan terjadi. Sekeras-kerasnya nanti banyak yang menentang. Kita juga harus
menentang meski hanya berdua.
Annisa Ulfah Miah
31 May 2015
Jumat, 08 Mei 2015
Janji
Akhir-akhir
ini aku banyak menghabiskan waktu untuk sekedar menatap langit. Kau tahu kenapa?
Bulan akhir-akhir ini sempurna bulat. Indah sekali. Rasanya bila ditatap berdua
aku sungguh tidak ingin bergeser. Sedikitpun tak akan. Menyandarkan kepalaku
sambil bersenandung manja. Kau pasti juga akan merasakan hal yang sama bukan? Jika
terpaan angin itu menghempas tubuhku, aku yakin kau pasti akan menangkisnya
segera. Kau pasti takkan rela wanitamu ini menggigil kedinginan. Kau tahu? Entah
sampai kapan kau akan tetap disamping walau kau selalu berkata untuk selamanya.
Untuk seterusnya. Sungguh jika nanti kita benar-benar terpaksa terpisah karena
jarak dan waktu masih maukah kau menangkis dingin yang menerpa? Masih maukah kau
sekedar melindungiku? Kita sama sama tidak mengerti bagaimana waktu mengatur
segalanya. Namun jika diijinkan aku sungguh tidak ingin kau hilang dari depan
mata. Lenyap begitu saja dan pergi. Tidak akan aku biarkan. Sekuat apapun nanti
aku sungguh ingin selalu berdua. Apakah kau juga demikian? aku sudah yakin aku
memilih seorang pria yang tepat dalam hidupku. Sebagai seorang wanita yang sudah
beranjak dewasa, tidak banyak lagi yang akan aku lakukan. Aku ingin
menyelesaikan studiku dengan baik. Mempertahankan seorang pria yang memang suah
menjadi pilihanku. Tidak untuk yang lain. Banyak beban yang masih aku pikul. Dan
perlahan-lahan aku sungguh ingin melepasnya pada waktu yang tepat. Melepasnya bukan
berarti membuang atau meninggalkan. Tetapi berusaha untuk menjadikan sebuah
bahagia. Bukan sebuah beban.
Dan
kau sebagai pria yang aku pilih, aku sungguh berharap banyak padamu. Tidak ingin
banyak bicara. Aku hanya ingin mempertahankan seorang saja. Setelah semua studiku
berakhir dengan hebat, tak akan ada lagi keinginan selain membahagiakanmu dan orang-orang
disekitarku tentu. Mewujudkan semua impian kita yang menggunung. Saling berusaha
dan berdoa. Aku yakin, jika kau memang sudah tepat. Sudah layak untuk menggandeng
lenganku berdua. Aku sudah yakin. Lantas mau apa lagi? Aku sungguh tidak ingin
kau hilang. Kali ini aku benar-benar ketakutan. Mengapa? banyak hal rancu dan
buruk selalu merasuk pikiran. Genggaman erat yang selalu engkau berikan itu sungguh
akan selalu terikat kuat. Aku tidak akan rela jika ada tangan wanita lain yang
kau genggam. Sungguh tak akan. Akan aku lakukan segala cara untuk membuatmu
tetap berada isamping. Apapun itu. Kau tahu? Ketakutan ini semakin menguat. Sungguh
aku hanya bisa mendongak membaca untaian doa yang selalu sama. Menyelipkan namamu
dan impian kita. Bahkan ketika kita sedang shalat berdua. Kau tahu bukan, aku
selalu menjadi yang terakhir. Kau tahu apa yang menjadi doaku? Ketika kau duduk
didepanku mengumanangkan takbir. Mengajak sujud bersama. Hingga aku mencium
tanganmu dan kau mencium keningku, kau tahu bagaimana rasanya? Luar biasa! Sungguh
mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia.
Aku
hanya berharap satu padamu dan itu selalu sama. Tak akan berbeda. Sesulit apapun nanti
kau suah berjanji akan tetap disampingku. Ketika aku jatuh. Ketika aku
tersungkur. Kau sudah berjanji akan menarik lenganku. Kau bisa membuktikan
semuanya bukan? Aku percaya kau adalah pria yang berbeda. Aku yakin kau memang
sudah ada untukku. Jadi, mari kita berusaha berdua. Mari kita membuat jejak
untuk impian kita. Mari kita buat hidup kita lebih berarti satu sama lain. Kau mau
melakukannya bukan? Mari kita wujukan semua yang masih semu. Kita buat angin
yang menerpa kita sebagai sebuah pendorong bukan penghambat. Kita sama-sama
yakin bukan? Jadi biarkan sekarang Tuhan yang bekerja bahwa sebuah hasil tak
akan menghianati usahanya. Kau tetap ingin bertahan? Baiklah. Genggam tanganku dan
serukan bahwa kita akan melewati semua dengan mudah. Rangkul bila kau sungguh
tak ingin kehilangan. Dan selipkan aku dalam semua doamu agar kita tetap bisa
berjalan walau dalam padang duri. Mari kita lakukan.
“You don’t
know what I feel now. But I’m sure you are that I need.”
Annisa Ulfah Miah
8 Mei 2015
Jumat, 13 Maret 2015
Pertemuan di Perbatasan
Kami hadir
ketika hari sudah beranjak senja. Ketika matahari sudah berada di ufuk yang
tentu saja tidak akan berjalan kembali keatas. Kami berada di perbatasan. Entah
berapa lama lagi akan tenggelam, atau entah sampai kapan akan terus berdiri
tanpa tujuan. Kami berada di antara laut dan udara. Begitulah kami. Ada di
perbatasan. Menyesal mengapa tak sejak matahari muncul dari ufuk timur. Mengapa
tak sejak tadi ada di daratan. Kadang hanya bisa menyesal. Menghela nafas. Ya,
begitulah. Pertemuan memang tidak selalu tepat pada waktunya. Mungkin, Tuhan
punya alasan atas pertemuan di perbatasan.
Kami berdua
berani menyatu dalam satu jalan. Berani bersama dalam satu tujuan. Meski kami
tau, kaki kami yang sebelah tentu saja sudah menapaki air. Yang satunya
menapaki tanah. Sudah berbeda. Waktu yang kami miliki untuk memutuskan bersatu
tidak banyak. Kami harus bersaingan dengan senja yang mau tak mau selalu ingin “pergi”.
Kami harus pandai membagi waktu agar kami tidak ikut tenggelam bersama senja. Tidak
ikut terbawa air seperti kaki sebelah kami. Kami harus mengatur strategi. Bagaimanapun,
keputusan untuk bersatu adalah sebuah komitmen. Sedalam apapun nanti senja akan
tenggelam, sejauh apapun nanti tubuh kami terbawa air. Tangan kami harus tetap
bergandengan. Tidak peduli akan seberapa
jauh jarak terbentang. Yang jelas, kami tetap menumbuhkan komitmen. Tidak
mau jika harus mengalah pada senja. Tidak! Sia-sia saja semua yang sudah kami
lakukan selama ini. Senja pasti tidak akan cukup kuat menenggelamkan kami
hingga dasar. Kami yakin. Toh, senja tidak punya kaki tangan seperti kami. Tentu
saja dia tidak bisa menghalangi kami bukan? Nah, seharusnya kami lebih kuat
dari senja.
Ingin tahu
bagaimana rasanya bertemu di perbatasan? Jika boleh memilih, tentu saja kami
tidak ingin bertemu di perbatasan. Kami ingin bertemu sejak awal. Kau tahu? Bertemu
di perbatasan tidak bisa dinikmati. Selalu tergesa. Tak ingin kalah dengan
senja. Selalu begitu. Dan yang paling menjadi beban pikiran adalah jika nanti
waktu perbatasan kami sudah habis. Apakah kami bisa bertahan? Apakah komitmen
kami masih bisa tetap dijalankan? Itu satu-satunya yang menjadi beban pikiran
yang paling berat. Kau tahu tidak bagaimana rasanya teramat sayang pada waktu
yang salah? Nah, ini yang kami rasakan juga. Sedikit kecewa. Kenapa tidak dari
dulu. Nah, berkali kali mungkin kami sudah mengumpat demikian. Tapi sekali lagi,
matahari pun tidak pernah selalu diatas bukan? Sama halnya dengan kami,
pertemuan di perbatasan juga tidak akan selalu berakhir di perbatasan. Dan kami
akan selalu yakin bahwa kami akan berakhir di muara. Tempat yang jauh. Abadi. Dan
tentu saja, tempat segala komitmen kami berlabuh.
Sewajarnya,
jika memang waktu di perbatasan kami adalah waktu terbaik bagi pertemuan, kami
mungkin akan menerima dengan senang hati. Bersyukur. Memaki dalam diri bahwa
selama ini salah. Tapi masalahnya, kami belum tahu ujung dari ini semua. Akankah,
sebuah muara, atau hanya tenggelam tanpa pesan. Tidak ada yang bertahan. Pasrah
saja ketika ombak menggulung. Tidak ada komitmen yang semakin menguat. Kami tidak
tahu, siapa diantara kami yang akan menjadi penguat. Dan siapa yang akan
dikuatkan. Kami buta. Tidak tahu menahu. Bertemu meski hanya diperbatasan saja
sudah bersyukur. Layaknya di pertemukan di awal, kami harus bisa bertahan. Lebih
tepatnya tetap mempertahankan satu komitmen. Untuk tetap menyatu. Tanpa berpisah.
Sesulit apapun nantinya.
Nah,
untuk bertahan dari ini semua kami tidak hanya membutuhkan rasa untuk
mengalahkan senja. Menerjang ombak yang menggulung. Mempererat genggaman
tangan, atau yang lainnya. Bertahan tidak hanya demikian. Tapi, bagaimana kami
bisa menjadi sebuah matahari. Bukan hanya senja. Jadi, kami hadir setiap saat. Tak
mengenal waktu. Seperti apa yang kami inginkan. Nah, bagaimana lagi jika memang
kami tidak bisa melakukan banyak hal. Mengintip malam? Tentu saja kami takut,
kedua kaki kami sudah menapak air. Kami takut salah satu dari kami tertinggal. Tidak
mau. Jangan sampai. Kami sudah merelakan kaki sebelah kami menapaki air. Dan tolong
jangan minta semuanya. Kami masih harus menyusun strategi bagaimana kami bisa
melewati waktu di perbatasan. Sekali lagi, kami hanya tidak mau pertemuan ini
berhenti di perbatasan. Mengerti?
Jadi,
kami masih terus bertahan. Bertahan dalam keadaan yang sebenarnya tidak memaksa,
namun sulit. Keadaan dimana sebenarnya kami harus mempertahankan diri agar
tidak tenggelam bersama senja. Atau kami harus siap diobrak-abrik oleh ombak. Sejujurnya,
kami ingin merasakan bagaimana bertemu pada waktu yang tepat. Agar kami tidak
perlu bersusah payah untuk mempertahankan. Tapi tunggu, ada baiknya juga kami
dipertemukan di perbatasan. Karena dengan ini, kami bisa belajar menjadi penguat.
Belajar bertahan pada sebuah komitmen yang sudah diciptakan. Nah, sekarang,
kami hanya perlu tetap menguatkan satu sama lain hingga nanti tidak ada lagi
yang harus dikuatkan. Hingga kami sudah terpisah jauh berbeda dimensi. Kami masih
bisa saling berkomunikasi. Dengan doa. Semoga. Semoga muara adalah tempat kami.
Tempat semua komitmen kami terkumpul. Tumbuh indah. Hingga mengembang. Dan kami,
masih bisa bergandengan. Memperlihatkan pada senja dan ombak dengan gagah. Bahwa
kami bisa melewatinya dengan bahagia.
“Because I never feel
complete If I life without you, baymax.”
Annisa Ulfah
12 Maret 2014
Sabtu, 07 Maret 2015
Ujung Dari Waktu Terbaik
Kau tahu?
Ingin rasanya aku kembali ke masa dimana problematika yang dihadapi tak sedalam
ini. Tak menyangkut batin. Hanya logika. Tak perlu aku berpikir panjang untuk menemukan
ujungnya. Kadang, aku merasa rindu tertawa bebas. Menghadapkan wajah ke langit
dengan mulut menganga, riang. Rindu merasakan mata berair karena terlalu banyak
hal yang harus ditertawakan. Rindu juga bergandengan bersama. Mengenal satu
dengan yang lain. Menjalin persahabatan erat. Nah, kadang aku merindukan masa
itu. Masa dengan problematika rendah. Tapi aku bisa apa? Rasanya untuk kembali
pun tidak akan mungkin. Mesin waktu sebaik apapun tak akan ada yang bisa
menggeser takdir Tuhan, bukan? Sekalipun ada, apa bisa mengembalikan? Tuhan
tentu tak akan memberi izin. Mau apa? Tuhan sudah jelas-jelas bekerja sesuai
rencana-Nya. Berharap waktu semakin berlalu menjadi semakin baik. Tak peduli
akan seberapa berat rintangan untuk menjadi “baik”. Akan seberapa lelah
memperjuangkan. Bagi Tuhan, yang jelas Ia sudah bekerja sesuai dengan
rencana-Nya. Memperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki. Meninggalkan apa yang
seharusnya ditinggalkan. Serta mempertahankan apa yang harus dipertahankan. Sebenarnya,
maksud Tuhan sederhana. Hanya mengajarkan untuk menjadi lebih baik. Dan kau
kembali benar dalam hal ini, komandan.
Suasana
seperti ini, rasa-rasanya sungguh tidak bisa berhenti menyeretku dari
problematika kita. Pernah aku merasa tidak ingin memikirkannya. Pasrah. Ingin berjalan
sesuai dengan kehendak Tuhan. Semakin menjauh malah semakin menguat. Semakin aku
tangkis, malah semakin keras aku ditamparnya. Kau tahu, jika itu semua hanya
sebuah tumpukan buku-buku tebal, ingin rasanya aku lempar jauh. Entah terbanting
pada tembok, entah pada batu, yang jelas hingga hancur. Agar tak ada lagi
problematika sedalam ini. Agar aku bisa merobek dinding waktu. Meminta izin
pada Tuhan untuk melesatkannya, tanpa pandang bulu. Tapi sekali lagi, mau apa? Toh,
ucapanku tak akan bisa mengubah apapun. Sekeras apapun buku tebal ini aku
lempar, palingan hanya rusak. Sobek sedikit di ujung. Tak bisa hancur sempurna.
Sama seperti dinding jarak yang akan kita hadapi kelak. Bah! Pikiran carut marut yang aku hadapi sungguh menguras. Dan aku
hanya bisa diam. Menatap tumpukan buku tebal di hadapan. Menikmati detik jam
yang semakin lama semakin mengeras. Membayangkan waktu-waktu terbaik. Nah,
waktu-waktu terbaik? Belum, itu belum berujung. Bahkan baru dimulai. Dan entah,
apakah waktu terbaik lainnya masih bisa aku wujudkan? Kau benar, akan ada hal
buruk di sebaik apapun rencana kita.
Nah,
mau dikatakan bagaimanapun, hal buruk pasti terjadi. Aku tidak ingin membuat
hal buruk itu sebagai penghancur. Melainkan sebagai penguat. Agar kita tetap
berada pada satu jalur. Bukankah kau sudah memintaku untuk menjadi penguatnya? Nah,
kali ini aku tegaskan, aku mau. Aku akui, aku memang belum bisa menjadi penguat
yang sempurna. bahkan kadang aku merasa, aku masih belum bisa memilikimu
sepenuhnya. Entahlah, aku tidak mengerti apa yang harus aku katakan kali ini. Yang
jelas, aku hanya ingin kau agar dijaga-Nya. Dipermudah atas segala urusan. Dilindungi dari segala hal buruk yang datang. Aku hanya ingin kau tumbuh
menjadi manusia terbaik. Entah dengan atau tanpa aku, nantinya. Aku sudah
banyak berdoa untukmu. Sejak pertemuan pertama kita tempo hari. Tapi tunggu,
aku ingin kau mengetahui satu hal. Aku ingin kau tetap disamping. Seburuk apapun
kondisi kita nanti. Sekuat-kuatnya Tuhan meminta salah satu dari kita berhenti,
itupun karena melepaskan dengan lembut. Bukan memaksa. Melepaskan karena
kepergian yang memang sudah waktunya. Sudah diambil oleh-Nya. Bukan kepergian
karena orang lain. Jangan sampai. Aku juga selalu menyertai doaku dengan waktu
terbaik kita, selama apapun waktu itu akan kita rasakan. Tenang saja, aku akan
tetap berdiri dengan senyum disampingmu. Tak menggubris hal-hal yang bagiku
sungguh tak penting. Yang aku mau adalah kita berdua hadir dalam waktu terbaik.
Jangan tanyakan padaku bila waktu terbaik itu tak terjadi. Aku sungguh ingin
melompati bagian itu. Tak ingin aku mengetahuinya sedikitpun. Menyentuhnya apalagi.
Sungguh, tak akan. Hahaha aku memang
pengecut, komandan. Aku tidak ingin melihat sisi buruk dari sebuah kehidupan. Enggan
menerima. Kau tahu alasannya? Karena aku sudah lama terjebak pada sisi buruk. Tak
ingin kembali lagi. Aku sudah lelah. Terima kasih banyak komandan, kau
memberiku sebuah sisi baik yang berharga. Dan semoga ini menjadi seterusnya. Sumpah!
Bawa aku selalu pada sisi baik. Bisakah?
Nah, coba bayangkan, ini adalah ujung dari waktu terbaik kita.
Nah, coba bayangkan, ini adalah ujung dari waktu terbaik kita.
“Senja
itu, aku melihat kau bercahaya terpapar sinar matahari sore. Dengan rambut yang
memutih. Dengan sebuah tongkat yang kau genggam erat di tangan kanan. Kau duduk
menatap matahari yang tenggelam. Aku berjalan pelan, menghampirimu yang dengan
damai menatap matahari senja. Aku usap belakang punggungmu. Memberikan senyuman
ramah. Kau menoleh sambil membenarkan kacamata berlensa tebal itu. Seperti biasanya,
kau merangkul tubuhku yang sudah mulai ringkih. Ah iya, menatap senja bersama
adalah kebiasaan kita. Sesekali pikiran kita tertuju pada arah yang sama. Waktu
ketika kita begitu takut untuk melewatinya. Masa itu, ingat? Ketika kita
mati-matian berserah. Tidak ingin mengetahui bagaimana jalannya. Yang penting
aku denganmu. Kau denganku. Ah, selayaknya seorang yang sudah tua memang
memiliki daya ingat rendah. Namun, itu sungguh tidak terjadi pada kita. Hingga tubuh
seringkih ini. Wajah yang sudah mengeriput, kita tetap mengingat sebuah
perjalan. Kita masih bsia menjadi penguat. Hingga saat ini. Hingga aku sudah
tidak bisa memakai jilbab sendiri. Hingga tanganmu yang juga renta itu
membantuku untuk memakaikannya. Dan ketika bibirmu menyium keningku yang semula
kuat dan tegas, kini lama-lama sudah melemah. Otot wajah sudah tidak bisa
bekerja dengan baik. Namun, satu hal tidak berubah. Kehangatannya sungguh tetap
sempurna.
Senja ini,
ketika kita sudah berhasil mewujudkan semua yang memang harus kita wujudkan. Kita
berdiri disebuah rumah yang indah. Di sebuah Negara impian kita berdua. Tinggal
dengan ceria bersama anak-anak kita. Hingga kini, semua yang sebelumnya hanya
sebuah angan, sudah kita wujudkan. Aku menggenggam tanganmu yang bergetar. Aku satukan.
Aku cium. Sebagai rasa hormat. Aku berterimakasih kau sudah usahakan kita
selalu dalam sisi baik. Kau sudah mati-matian. Dan biarkan kini aku juga
merawatmu. Hingga nanti kau atau aku yang akan melepaskan dengan lembut.”
Pastikan,
bahwa kau juga membayangkannya sama sepertiku. Kau juga merasakan bagaimana
bahagianya kita berdua. Bagaimana rasanya kalau kita saling berusaha untuk
tetap berada pada satu jalur. Sesulit apapun nanti, sungguh aku ingin itulah
ujung dari waktu terbaik kita. Jangan pernah menyerah kepadaku. Karena aku tak
akan melakukan hal itu kepadamu. Tenang, aku akan tetap berdiri disamping. Berjalan
gagah seperti biasanya. Selalu. Hingga kau sudah tak membutuhkanku lagi,
kelak. Baru aku akan berhenti. Tetapi, aku tahu, kau takkan pernah memintaku
demikian. Semoga. Semoga ujung terbaik kita adalah bahagia.
Annisa Ulfah
8 Maret 2015
Langganan:
Postingan (Atom)
