
Kaca yang penuh embun
itu sesekali aku gores dengan jemari kecilku. Kemudian, aku usap-usap untuk
sesekali melihat keadaan luar yang masih basah. Tetesan air hujan masih
terdengar meskipun tak seramai semalam. Meski begitu, jalanan di depan tampak becek tak karuan. Awan yang sebenarnya
cerah tapi entah mengapa masih saja menurunkan hujan. Sebenarnya aku suka hujan
datang. Suka melihat percikan air dimana-mana. Suka merasakan udara dingin yang
perlahan melewati tubuh kemudian membalutnya. Hujan sebenarnya menyenangkan. Tapi
tidak ketika ia mampu merenggut kebahagiaan.
Beberapa menit menikmati hujan di balik jendela, cukup
membuatku jenuh. Melihat air yang terus saja turun dan membasahi pekarangan
yang semakin becek. Membuatku semakin tak berniat menatapnya lagi. Aku beranjak.
Meninggalkan goresan yang sempat aku ciptakan tadi di atas embun. Goresan sebuah
nama yang aku rindukan. Goresan namamu. Langkahku tertuju pada sebuah benda
kecil berwarna biru muda yang duduk rapi di samping meja. Aku ambil benda itu. Aku
cermati lalu aku buka. Isinya adalah fotomu. Foto seorang pria dengan tatapan
tajam dan senyum lebar mengarah ke wajahku. Tepat ke wajahku. Foto yang memang
sengaja sampai sekarang masih aku simpan. Foto yang bisa membuatku mengusap
rindu meski tak seberapa. Foto yang indah. Meski telah lama hanya ada di dalam
kotak kecil yang berdebu. Tapi wajahnya tetap sama. Tak pernah ada debu
sedikitpun. Tak ada.
Sering aku bertatap muka pada foto itu. Seolah foto itu
benda hidup yang bisa aku berikan seluruh ulasan kata hatiku kapan saja. Sempat
aku berfikir, seberapa gilakah aku setelah cukup lama bertatap muka pada sebuah
foto yang jelas-jelas adalah benda mati yang tak mungkin dapat bicara. Tapi,
aku merasakan atmosfer berbeda. Foto itu adalah foto yang indah. Penggantimu setelah
kamu pergi bersama hujan waktu itu. Masih segar diingatan. Masih sulit aku
leyapkan. Dan sekarang, apa yang sedang kamu lakukan disana? Apa yang sedang
membelenggumu sehingga kamu masih enggan kembali? Apakah kamu tidak peka? Disini
ada hati yang masih menunggumu kembali. Ada hati yang sering merindu walau
hanya terobati oleh foto yang hampir berdebu. Ada otak yang tak mati
memikirkanmu dan hanya bisa membawanya ke dalam mimpi. Masih ada wanita yang
seperti itu. Seharusnya kamu sadar dan peka. Seharusnya kamu bisa kembali dan
membahagiakan wanita itu. Seharusnya.
Fotomu yang hampir berdebu itu masih aku pandangi tampa
henti. Ada cahaya yang tajam menembus mataku. Meski tak nyata, aku sudah cukup
merasakan mata kita saling bertemu dan debar yang lama tak aku rasakan itu
muncul. Semua seolah-olah nyata dan terjadi pagi ini. Ditemani hujan yang
membawaku pada ingatan ketika kamu pergi. Dengan atmosfer bahagia dan
kehilangan yang bertautan tanpa henti. Balutan udara yang seperti biasa, menusuk
dan membalut lembut bersama suara hujan yang berubah jadi senandung kecil. Bahagia,
kecewa, dan kehilangan menghiasi dan tergambar jelas pada langit-langit ruangan
pagi ini. Aku adalah wanita yang menunggumu kembali jika kamu mau kembali. Aku adalah
wanita yang berusaha menahan rindu sehingga hanya bisa melampiaskannya pada
foto mungilmu yang masih aku simpan hingga saat ini. Aku juga wanita yang masih
sabar menunggu kamu sadar bahwa hanya akulah wanita yang sukarela merindu tanpa
meminta balasan dirindukan. Memikirkanmu tanpa meminta balasan untuk
dipikirkan. Masih adakah wanita sukarela sepertiku di kehidupanmu yang
sekarang?
Annisa Ulfah Miah
8 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar