Rabu, 08 Januari 2014

Dengan Sukarela Merindu

            




            Kaca yang penuh embun itu sesekali aku gores dengan jemari kecilku. Kemudian, aku usap-usap untuk sesekali melihat keadaan luar yang masih basah. Tetesan air hujan masih terdengar meskipun tak seramai semalam. Meski begitu,  jalanan di depan  tampak becek tak karuan. Awan yang sebenarnya cerah tapi entah mengapa masih saja menurunkan hujan. Sebenarnya aku suka hujan datang. Suka melihat percikan air dimana-mana. Suka merasakan udara dingin yang perlahan melewati tubuh kemudian membalutnya. Hujan sebenarnya menyenangkan. Tapi tidak ketika ia mampu merenggut kebahagiaan.

            Beberapa menit menikmati hujan di balik jendela, cukup membuatku jenuh. Melihat air yang terus saja turun dan membasahi pekarangan yang semakin becek. Membuatku semakin tak berniat menatapnya lagi. Aku beranjak. Meninggalkan goresan yang sempat aku ciptakan tadi di atas embun. Goresan sebuah nama yang aku rindukan. Goresan namamu. Langkahku tertuju pada sebuah benda kecil berwarna biru muda yang duduk rapi di samping meja. Aku ambil benda itu. Aku cermati lalu aku buka. Isinya adalah fotomu. Foto seorang pria dengan tatapan tajam dan senyum lebar mengarah ke wajahku. Tepat ke wajahku. Foto yang memang sengaja sampai sekarang masih aku simpan. Foto yang bisa membuatku mengusap rindu meski tak seberapa. Foto yang indah. Meski telah lama hanya ada di dalam kotak kecil yang berdebu. Tapi wajahnya tetap sama. Tak pernah ada debu sedikitpun. Tak ada.

            Sering aku bertatap muka pada foto itu. Seolah foto itu benda hidup yang bisa aku berikan seluruh ulasan kata hatiku kapan saja. Sempat aku berfikir, seberapa gilakah aku setelah cukup lama bertatap muka pada sebuah foto yang jelas-jelas adalah benda mati yang tak mungkin dapat bicara. Tapi, aku merasakan atmosfer berbeda. Foto itu adalah foto yang indah. Penggantimu setelah kamu pergi bersama hujan waktu itu. Masih segar diingatan. Masih sulit aku leyapkan. Dan sekarang, apa yang sedang kamu lakukan disana? Apa yang sedang membelenggumu sehingga kamu masih enggan kembali? Apakah kamu tidak peka? Disini ada hati yang masih menunggumu kembali. Ada hati yang sering merindu walau hanya terobati oleh foto yang hampir berdebu. Ada otak yang tak mati memikirkanmu dan hanya bisa membawanya ke dalam mimpi. Masih ada wanita yang seperti itu. Seharusnya kamu sadar dan peka. Seharusnya kamu bisa kembali dan membahagiakan wanita itu. Seharusnya.

            Fotomu yang hampir berdebu itu masih aku pandangi tampa henti. Ada cahaya yang tajam menembus mataku. Meski tak nyata, aku sudah cukup merasakan mata kita saling bertemu dan debar yang lama tak aku rasakan itu muncul. Semua seolah-olah nyata dan terjadi pagi ini. Ditemani hujan yang membawaku pada ingatan ketika kamu pergi. Dengan atmosfer bahagia dan kehilangan yang bertautan tanpa henti. Balutan udara yang seperti biasa, menusuk dan membalut lembut bersama suara hujan yang berubah jadi senandung kecil. Bahagia, kecewa, dan kehilangan menghiasi dan tergambar jelas pada langit-langit ruangan pagi ini. Aku adalah wanita yang menunggumu kembali jika kamu mau kembali. Aku adalah wanita yang berusaha menahan rindu sehingga hanya bisa melampiaskannya pada foto mungilmu yang masih aku simpan hingga saat ini. Aku juga wanita yang masih sabar menunggu kamu sadar bahwa hanya akulah wanita yang sukarela merindu tanpa meminta balasan dirindukan. Memikirkanmu tanpa meminta balasan untuk dipikirkan. Masih adakah wanita sukarela sepertiku di kehidupanmu yang sekarang?

Annisa Ulfah Miah

8 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar