Sabtu, 18 Januari 2014

Manisnya Sabtu Sore #1




            Gitar yang sedari tadi aku mainkan seakan mengerti apa yang aku rasakan. Petikan-petikan yang mengandung unsur bahagia di setiap nadanya seakan membuat siapapun yang mendengarnya akan merasakan suka cita. Lagu klasik yang berasal dari Jerman-lah yang sedari tadi aku mainkan berulang-ulang. Entah ada atmosfer apa, rasanya lagu klasik ini selalu membawaku memasuki duniamu. Meskipun hanya dalam dunia maya yang tak nyata dan tak bisa aku lihat sepenuhnya. Meski begitu, rasa bahagia seakan merambat ke seluruh tubuh. Membuat tubuhku merasakan hawa sukacita yang luar biasa.

            Tanganku masih sibuk memetik senar gitar dan mengalunkan nada-nada bahagia yang lainnya. Mataku aku pejamkan. Lembut nada yang ku petik menjalar keseluruh pikiran. Indah dan nyenyak sekali. Aku benar-benar berada dalam sukacita yang selama ini aku impikan. Beberapa detik aku sempat terlelap dalam buaian nada indah yang aku mainkan sendiri. Aku membuka mataku. Masih dengan memetik nada indah yang kali ini temponya lebih lambat. Suasana di Kedai Kopi sore ini membuatku semakin menikmati keadaan yang tercipta secara tak sengaja. Hujan gerimis diluar sana juga membuatku semakin cinta dengan apa yang aku rasakan saat ini.

            Lonceng kedai berbunyi. Pertanda ada seorang pelanggan baru yang ingin menyeduh kopi di kedai ini. Mataku dengan sigap melirik siapa yang datang. Kamu. Pria yang sebenarnya aku tunggu sedari tadi disini dan akhirnya datang. Pertemuan perdana kita adalah tiga minggu yang lalu tepat di kedai ini. Meski di setiap pertemuan kita, kamu tak pernah melirik ke arahku, tapi entah mengapa kekuatan magnetmu begitu kuat menarikku untuk memperhatikanmu setiap detik. Kamu adalah orang baru yang berhasil mengubah suasana hidupku. Kamu, pria itu yang secara misterius mencuri hatiku perlahan-lahan. Entah siapa namamu, yang jelas aku menemukanmu disini. Di kedai kopi andalan kita berdua. Masih dengan memetik nada yang indah, mataku mengawasimu dari kejauhan. Kamu duduk di sudut. Ada majalah yang sengaja kamu bawa kemudian kamu baca. Kamu tampak seperti seorang malaikat yang sukarela menolongku agar aku tak berjalan dalam kekecewaan lebih jauh lagi. Kamu yang berhasil memberikan goresan warna baru di kanvas kehidupanku. Indah sekali memang. Matamu yang selalu tajam meskipun tak menatapku. Tubuhmu yang selalu gagah meskipun tak sedang berhadapan denganku. Senyummu yang bisa membius keadaan menjadi penuh dengan bahagia. Sebuah senyum tipis dari pria hitam manis muncul secara sederhana.

            Dengan jari yang masih sibuk memetik lagu klasik yang selalu aku mainkan, aku memandangimu. Aku sudah cukup bahagia melihatmu sore ini. Sungguh, Sabtu sore yang indah. Sama seperti Sabtu sore lalu, dan lalunya lagi, dan lalunya lagi. Sama-sama indah. Sama-sama membuatku bahagia karena kehadiranmu yang membuat suasana hatiku berubah. Mataku masih sibuk mengawasimu. Kali ini, segelas kopi hangat baru saja kamu seduh. Manis sekali. Wajahmu menebar senyum lagi. Meski bukan untukku tapi aku membalasnya. Meski kamu tak tahu dan tak melihatnya. Lagu klasik dengan tempo lambat masih aku mainkan. Berharap kamu menengok sedikit dan melihatku bahwa sebenarnya aku bermain untukmu.
“Ayolah, palingkan wajah indahmu….” Seruku dalam hati. Aku benar-benar tak tahan. Ingin rasanya aku mendekat dan mengetahui namamu. Agar kelak ketika aku melihatnya lagi, aku bisa menyerukan namamu dan menghampirimu. Sungguh, semua itu akan sangat manis bila benar-benar terjadi.

            Lagu klasik yang sudah aku mainkan berulang kali itu akhirnya aku akhiri. Aku tutup dengan petikan apoyando yang sedikit menggantung. Sementara itu, dengan wajah kecewa aku melihatmu beranjak dari kursi yang ada disudut. Senja yang sudah berganti petang memaksamu untuk mengakhiri waktumu di hadapanku. Aku melihat langkahmu yang berjalan menuju pintu utama dan akhirnya keluar. Ada sekelebat rasa kecewa yang selalu muncul ketika aku tak berhasil menarik perhatianmu saat pertemuan kita. Baiklah, kini aku mulai mengemasi gitarku. Aku masukkan ke dalam tempatnya seperti semula. Kemudian ikut keluar kedai. 

            Sungguh, Sabtu sore yang indah kau berikan padaku sekali lagi. Sampai bertemu di Sabtu sore berikutnya.  Semoga, aku bisa menarik perhatianmu dengan petikan nada indahku. Semoga juga aku bisa mengetahui namamu. Agar aku bisa menyerukan namamu saat kita bertemu lagi, nanti.

Bersambung....

Annisa Ulfah Miah

18 January 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar