
Gitar yang sedari tadi
aku mainkan seakan mengerti apa yang aku rasakan. Petikan-petikan yang mengandung
unsur bahagia di setiap nadanya seakan membuat siapapun yang mendengarnya akan
merasakan suka cita. Lagu klasik yang berasal dari Jerman-lah yang sedari tadi
aku mainkan berulang-ulang. Entah ada atmosfer apa, rasanya lagu klasik ini
selalu membawaku memasuki duniamu. Meskipun hanya dalam dunia maya yang tak
nyata dan tak bisa aku lihat sepenuhnya. Meski begitu, rasa bahagia seakan
merambat ke seluruh tubuh. Membuat tubuhku merasakan hawa sukacita yang luar
biasa.
Tanganku masih sibuk memetik senar gitar dan mengalunkan
nada-nada bahagia yang lainnya. Mataku aku pejamkan. Lembut nada yang ku petik
menjalar keseluruh pikiran. Indah dan nyenyak sekali. Aku benar-benar berada
dalam sukacita yang selama ini aku impikan. Beberapa detik aku sempat terlelap
dalam buaian nada indah yang aku mainkan sendiri. Aku membuka mataku. Masih dengan
memetik nada indah yang kali ini temponya lebih lambat. Suasana di Kedai Kopi
sore ini membuatku semakin menikmati keadaan yang tercipta secara tak sengaja. Hujan
gerimis diluar sana juga membuatku semakin cinta dengan apa yang aku rasakan
saat ini.
Lonceng kedai berbunyi. Pertanda ada seorang pelanggan
baru yang ingin menyeduh kopi di kedai ini. Mataku dengan sigap melirik siapa
yang datang. Kamu. Pria yang sebenarnya aku tunggu sedari tadi disini dan
akhirnya datang. Pertemuan perdana kita adalah tiga minggu yang lalu tepat di
kedai ini. Meski di setiap pertemuan kita, kamu tak pernah melirik ke arahku, tapi
entah mengapa kekuatan magnetmu begitu kuat menarikku untuk memperhatikanmu
setiap detik. Kamu adalah orang baru yang berhasil mengubah suasana hidupku. Kamu,
pria itu yang secara misterius mencuri hatiku perlahan-lahan. Entah siapa namamu,
yang jelas aku menemukanmu disini. Di kedai kopi andalan kita berdua. Masih dengan
memetik nada yang indah, mataku mengawasimu dari kejauhan. Kamu duduk di sudut.
Ada majalah yang sengaja kamu bawa kemudian kamu baca. Kamu tampak seperti
seorang malaikat yang sukarela menolongku agar aku tak berjalan dalam
kekecewaan lebih jauh lagi. Kamu yang berhasil memberikan goresan warna baru di
kanvas kehidupanku. Indah sekali memang. Matamu yang selalu tajam meskipun tak
menatapku. Tubuhmu yang selalu gagah meskipun tak sedang berhadapan denganku. Senyummu
yang bisa membius keadaan menjadi penuh dengan bahagia. Sebuah senyum tipis
dari pria hitam manis muncul secara sederhana.
Dengan jari yang masih sibuk memetik lagu klasik yang
selalu aku mainkan, aku memandangimu. Aku sudah cukup bahagia melihatmu sore
ini. Sungguh, Sabtu sore yang indah. Sama seperti Sabtu sore lalu, dan lalunya
lagi, dan lalunya lagi. Sama-sama indah. Sama-sama membuatku bahagia karena kehadiranmu
yang membuat suasana hatiku berubah. Mataku masih sibuk mengawasimu. Kali ini,
segelas kopi hangat baru saja kamu seduh. Manis sekali. Wajahmu menebar senyum
lagi. Meski bukan untukku tapi aku membalasnya. Meski kamu tak tahu dan tak
melihatnya. Lagu klasik dengan tempo lambat masih aku mainkan. Berharap kamu
menengok sedikit dan melihatku bahwa sebenarnya aku bermain untukmu.
“Ayolah, palingkan
wajah indahmu….” Seruku dalam hati. Aku benar-benar tak tahan. Ingin rasanya
aku mendekat dan mengetahui namamu. Agar kelak ketika aku melihatnya lagi, aku
bisa menyerukan namamu dan menghampirimu. Sungguh, semua itu akan sangat manis
bila benar-benar terjadi.
Lagu klasik yang sudah aku mainkan berulang kali itu
akhirnya aku akhiri. Aku tutup dengan petikan apoyando yang sedikit
menggantung. Sementara itu, dengan wajah kecewa aku melihatmu beranjak dari
kursi yang ada disudut. Senja yang sudah berganti petang memaksamu untuk
mengakhiri waktumu di hadapanku. Aku melihat langkahmu yang berjalan menuju
pintu utama dan akhirnya keluar. Ada sekelebat rasa kecewa yang selalu muncul
ketika aku tak berhasil menarik perhatianmu saat pertemuan kita. Baiklah, kini
aku mulai mengemasi gitarku. Aku masukkan ke dalam tempatnya seperti semula. Kemudian
ikut keluar kedai.
Sungguh, Sabtu sore yang indah kau berikan padaku sekali
lagi. Sampai bertemu di Sabtu sore berikutnya. Semoga, aku bisa menarik perhatianmu dengan
petikan nada indahku. Semoga juga aku bisa mengetahui namamu. Agar aku bisa
menyerukan namamu saat kita bertemu lagi, nanti.
Bersambung....
Annisa Ulfah Miah
18 January 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar