
Ketika aku berjalan lurus menyusuri pinggiran Kota Jogja, ada sekelebat bayangmu menempel di mataku. Bayangan itu menetap. Sepertinya enggan berpindah. Entahlah, aku juga tak mengerti. Aku biarkan saja bayangan itu menemani langkahku. Aku masih berjalan lurus mencari tempat baru. Tempat yang bisa memberikan semua yang aku inginkan. Seperti kebahagiaan yang nyata, bukan kebahagiaan semu dan sementara. Karena hatiku memang telah lama merasakan kebahagian yang semu. Kebahagiaan yang ku kecap sementara. Dan entahlah, sudah sesering apa aku juga tak tahu. Rasanya penuh dengan ketidakpastian dan sangat pahit.
Langkahku aku percepat. Berharap sekelebat bayangan itu
hilang. Ternyata, lama-lama membiarkan bayangan itu menemani langkahku cukup
membuatku tersiksa, terperangkap dalam genangan masa lalu. Tapi apa hasilnya?
Bayangan itu malah semakin menempel. Semakin erat dan susah untuk pergi. Aku
percepat lagi langkahku, masih untuk harapan yang sama. Cepat, lebih cepat,
lebih cepat lagi, lagi, dan lagi. Tapi hasilnya sama. Aku mulai berlari.
Menembus angin yang berhembus berlawanan. Semakin berlari, bayangan itu malah
semakin erat. Dan kini, menempel dan tersimpan dihati.
Aku duduk di bangku pojok di bawah pohon yang rindang.
Anginnya berhembus tak berhenti. Aku duduk santai setelah lelah berlari
kencang. Lalu, lihatlah bayangan itu masih tetap ada. Belum mau beranjak
ataupun menghilang. Rasanya sia-sia aku berlari dan melangkah jauh meninggalkan
semuanya. Entah berapa kali aku mengabaikan persimpangan yang sudah jelas dapat
memberikanku kebahagiaan nyata. Aku malah sibuk berlari hanya untuk melepaskan
sekelebat bayangan yang sepertinya tak penting. Hingga aku sampai disini. Di
titik puncak. Di ujung lariku. Tetapi tetap saja masih enggan hilang. Masih
enggan pergi.
Ketika aku mengatur nafas yang mulai tersenggal-senggal,
aku mulai sedikit tersadar. Sudah berapa lama waktu yang aku sia-siakan untuk
berlari. Hanya rasa lelah yang aku dapatkan. Keinginanku sama sekali tak
terkabul. Sudah berapa banyak kebahagiaan nyata yang aku abaikan hanya
demi sebuah kebahagiaan semu. Hanya rasa sakit dan perih yang aku rasakan. Aku
mulai berfikir logis. Sampai kapan aku berlari dan mengabaikan semuanya? Sampai
kapan aku terus merasakan rasa lelah sedangkan hal yang aku inginkan tak juga
terkabul? Entahlah. Sekelebat bayangan itu bisa juga membuatku seperti ini.
Menumbangkan kebahagiaan yang aku rasakan dan menjebakku dalam genangan masa
lalu. Padahal hanya sebuah bayangan. Bayangan yang seharusnya bisa aku
musnahkan dengan sedikit keikhlasan. Sedikit saja. Namun nyatanya, memberikan
sedikit keikhlasan juga tak semudah itu. Bisa jadi kalau aku memaksakan untuk
ikhlas, bayangan itu justru tak mau pergi dan terus saja menetap.
Ya sudah. Aku akan menikmati bayangan ini selagi aku
masih bisa merasakannya. Tak akan ada lagi langkah cepat di pinggir Kota Jogja.
Tak akan ada lagi persimpangan yang aku abaikan. Karena aku benar-benar butuh
bahagia. Semua akan hilang dan musnah. Ketika aku, telah berhasil memberikan
sedikit keikhlasan untuk menghilangkan sekelebat bayangan yang hingga saat ini
masih hinggap dan memenuhi hati dan pikiranku.
Magelang, 2 Januari
2013
Annisa Ulfah Miah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar