
Malam ini sama seperti malam sebelumnya. Aku duduk
disampingmu dan terkadang kita berhadapan untuk menatap mata satu sama lain. Ini
yang aku suka, duduk berdua dengan canda tawa yang tak sengaja terselipkan
diantara pembicaraan manis kita. Ini juga yang selalu aku rindukan, senyum
manis yang mengembang sumringah tanpa paksaan. Belaian halus tanganmu yang
selalu aku harapkan agar tak pernah berhenti membelai rambut hitamku. Waktu yang
bagiku adalah waktu yang luar biasa. Waktu yang memberikan kebahagiaan yang
menjalar di setiap nadiku. Entahlah, rasa bahagia yang berlebih. Setiap aku
melihat mata indahmu, entah mengapa selalu muncul rasa takut kehilangan. Rasa itu
selalu merambat disekujur tubuhku. Entah firasat atau mungkin hanya sekedar
perasaan yang berlebihan, aku juga tak paham.
Aku selalu mengingat ini, disetiap kita duduk berdua di
bawah naungan langit Tuhan, kamu selalu berkata dengan penuh keyakinan bahwa
akulah satu-satunya. Bahwa akulah sumber kebahagiaanmu. Karena hanya aku,
wanita yang membuatmu selalu merindukan malam. Kata-katamu itu mampu membuatku
melayang jauh ke tempat antahberantah yang telah memberikanku kebahagiaan yang
sempurna. Kamu juga mampu memngukir senyum ikhlas yang mengembang penuh
kepercayaan di bibirku. Iya, itulah kamu. Memberiku harap dan meninggikan semua
khayalku.
Malam yang masih tetap sama. Posisi duduk kita juga sama.
Sama-sama berhadapan. Sama-sama menatap mata satu sama lain. Aku diam. Kamu juga
ikut diam. Kita tak bersuara sama sekali. Malam ini hening. Tak ada yang
bergeming. Aku sibuk menatap mata indah yang Tuhan ciptakan kini tepat berada
di hadapanku. Aku juga sibuk mengagumi tubuhmu yang gagah berisi. Tubuh yang
kelak akan melindungiku dari segala goresan entah itu goresan lahir atau
goresan batin. Tangan yang kelak siap menopang tubuhku ketika aku terjatuh dan
membutuhkan uluran tangan untuk kembali berdiri tegak. Semua itu aku temukan di
dalam dirimu, Sayang. Aku sudah menaruh harapan yang tak terhingga tingginya. Aku
juga sudah memberikan seluruh hati dan fikiranku sehingga semuanya telah
terkunci rapat olehmu. Sadarilah, kini hanya kamulah satu-satunya. Kini hanya
kamulah yang aku miliki untuk mewujudkan semua harapan. Dan kini hanya kamulah
yang telah berhasil mengunci rapat hati dan fikiranku.
Angin yang berhembus lembut seakan mendayu jiwaku. Dan tiba-tiba,
“DEG!” Aku tersadar. Aku berkhayal terlalu jauh. Aku melangkah terlalu lebar. Aku
sadar aku berkhayal. Aku sadar tak ada malam seindah dulu lagi. Aku sadar tak ada kamu lagi. Aku sadar
semuanya. Semuanya semu. Semuanya adalah khayalan yang masih belum bisa aku
musnahkan. Malam ini adalah malam yang berbeda. Malam yang sebenarnya aku duduk
sendiri. Bukan duduk bersamamu. Malam yang kesekian kalinya aku lewatkan
bersama khayalan dan bayangan bohong yang selalu aku ciptakan sendiri.
Maaf. Maafkan aku. Aku masih belum bisa terbiasa tanpamu.
Belum bisa terbiasa melewati malam indah tanpa kehadiranmu yang biasanya duduk
manis di sampingku. Aku juga masih terbayang akan omong kosongmu yang
menganggapku adalah satu-satunya. Omong kosong yang sementara mampu membuatku
melayang tinggi dan jatuh terhempas seketika. Omong kosong yang menyakitkan. Namun
tunggu, atau mungkin ini semua adalah salahku? Mungkin aku yang telah salah
mengartikan perhatianmu yang berlebihan sehingga semuanya berubah. Dan aku tak
lagi mengenal siapa aku sebenarnya dan siapa kamu sebenarnya. Semua tertutupi
kebohongan yang bisu. Sekali lagi maafkan aku, aku hanya belum mampu merasakan
seperti ini. Aku hanya belum mampu dihempaskan dari khayalanku yang tingginya
tak terhingga itu. Aku juga belum bisa menghapuskan luka yang pernah kau ukir
entah sengaja ataupun tidak. Namun, terimakasih. Kamu telah memberikanku waktu
untuk dapat memberikan harapanku yang teramat tinggi itu padamu. Meski pada
akhirnya, aku harus merasakan bagaimana dihempaskan begitu saja.
Aku sudah terlalu rapuh. Mungkin semua bayangan yang
sengaja aku ciptakan sendiri membuatku menjadi pengkhayal yang terlalu jauh.
Aku tidak akan menyalahkanmu. Aku akan tetap menyukai malam meskipun aku tahu,
kamu tidak demikian.
Annisa Ulfah Miah
8 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar