Sabtu, 08 Februari 2014

Harapku Kepada Malam



                

            Malam ini sama seperti malam sebelumnya. Aku duduk disampingmu dan terkadang kita berhadapan untuk menatap mata satu sama lain. Ini yang aku suka, duduk berdua dengan canda tawa yang tak sengaja terselipkan diantara pembicaraan manis kita. Ini juga yang selalu aku rindukan, senyum manis yang mengembang sumringah tanpa paksaan. Belaian halus tanganmu yang selalu aku harapkan agar tak pernah berhenti membelai rambut hitamku. Waktu yang bagiku adalah waktu yang luar biasa. Waktu yang memberikan kebahagiaan yang menjalar di setiap nadiku. Entahlah, rasa bahagia yang berlebih. Setiap aku melihat mata indahmu, entah mengapa selalu muncul rasa takut kehilangan. Rasa itu selalu merambat disekujur tubuhku. Entah firasat atau mungkin hanya sekedar perasaan yang berlebihan, aku juga tak paham. 

            Aku selalu mengingat ini, disetiap kita duduk berdua di bawah naungan langit Tuhan, kamu selalu berkata dengan penuh keyakinan bahwa akulah satu-satunya. Bahwa akulah sumber kebahagiaanmu. Karena hanya aku, wanita yang membuatmu selalu merindukan malam. Kata-katamu itu mampu membuatku melayang jauh ke tempat antahberantah yang telah memberikanku kebahagiaan yang sempurna. Kamu juga mampu memngukir senyum ikhlas yang mengembang penuh kepercayaan di bibirku. Iya, itulah kamu. Memberiku harap dan meninggikan semua khayalku. 

            Malam yang masih tetap sama. Posisi duduk kita juga sama. Sama-sama berhadapan. Sama-sama menatap mata satu sama lain. Aku diam. Kamu juga ikut diam. Kita tak bersuara sama sekali. Malam ini hening. Tak ada yang bergeming. Aku sibuk menatap mata indah yang Tuhan ciptakan kini tepat berada di hadapanku. Aku juga sibuk mengagumi tubuhmu yang gagah berisi. Tubuh yang kelak akan melindungiku dari segala goresan entah itu goresan lahir atau goresan batin. Tangan yang kelak siap menopang tubuhku ketika aku terjatuh dan membutuhkan uluran tangan untuk kembali berdiri tegak. Semua itu aku temukan di dalam dirimu, Sayang. Aku sudah menaruh harapan yang tak terhingga tingginya. Aku juga sudah memberikan seluruh hati dan fikiranku sehingga semuanya telah terkunci rapat olehmu. Sadarilah, kini hanya kamulah satu-satunya. Kini hanya kamulah yang aku miliki untuk mewujudkan semua harapan. Dan kini hanya kamulah yang telah berhasil mengunci rapat hati dan fikiranku. 

            Angin yang berhembus lembut seakan mendayu jiwaku. Dan tiba-tiba, “DEG!” Aku tersadar. Aku berkhayal terlalu jauh. Aku melangkah terlalu lebar. Aku sadar aku berkhayal. Aku sadar tak ada malam seindah dulu  lagi. Aku sadar tak ada kamu lagi. Aku sadar semuanya. Semuanya semu. Semuanya adalah khayalan yang masih belum bisa aku musnahkan. Malam ini adalah malam yang berbeda. Malam yang sebenarnya aku duduk sendiri. Bukan duduk bersamamu. Malam yang kesekian kalinya aku lewatkan bersama khayalan dan bayangan bohong yang selalu aku ciptakan sendiri. 

            Maaf. Maafkan aku. Aku masih belum bisa terbiasa tanpamu. Belum bisa terbiasa melewati malam indah tanpa kehadiranmu yang biasanya duduk manis di sampingku. Aku juga masih terbayang akan omong kosongmu yang menganggapku adalah satu-satunya. Omong kosong yang sementara mampu membuatku melayang tinggi dan jatuh terhempas seketika. Omong kosong yang menyakitkan. Namun tunggu, atau mungkin ini semua adalah salahku? Mungkin aku yang telah salah mengartikan perhatianmu yang berlebihan sehingga semuanya berubah. Dan aku tak lagi mengenal siapa aku sebenarnya dan siapa kamu sebenarnya. Semua tertutupi kebohongan yang bisu. Sekali lagi maafkan aku, aku hanya belum mampu merasakan seperti ini. Aku hanya belum mampu dihempaskan dari khayalanku yang tingginya tak terhingga itu. Aku juga belum bisa menghapuskan luka yang pernah kau ukir entah sengaja ataupun tidak. Namun, terimakasih. Kamu telah memberikanku waktu untuk dapat memberikan harapanku yang teramat tinggi itu padamu. Meski pada akhirnya, aku harus merasakan bagaimana dihempaskan begitu saja. 

            Aku sudah terlalu rapuh. Mungkin semua bayangan yang sengaja aku ciptakan sendiri membuatku menjadi pengkhayal yang terlalu jauh. Aku tidak akan menyalahkanmu. Aku akan tetap menyukai malam meskipun aku tahu, kamu tidak demikian.

Annisa Ulfah Miah
8 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar