Setelah sekian lama kita tidak berjumpa, kini kita
dipertemukan dalam kesempatan yang lain di sebuah sore yang beranjak senja. Kita
berada dalam satu tempat tanpa saling menyapa. Tanpa saling senyum. Tanpa ada
percakapan sedikitpun. Ini adalah pertemuan yang kesekian kalinya sejak kita
berpisah. Pertemuan yang tak pernah membawa kabar baik bagiku. Mungkin juga
bagimu. Kita layaknya orang yang tak pernah kenal. Kita sama-sama memungkiri
bahwa sebenarnya kita pernah bersama. Kita pernah menjadi satu. Dibalik sikap
cuekmu, aku pernah menjadi yang terbaik. Aku pernah menemanimu dan melukis
harimu sehingga lebih bermakna untuk dilewati. Aku pernah menjadi wanita yang
mendampingimu setiap saat. Pernah. Kamu juga demikian, kamu pernah menjadi pria
utama di hidupku. Pria yang selalu aku rindukan. Pria yang aku banggakan di
depan semua orang. Pernah. Namun, kita memang sama-sama diselimuti rasa gengsi
yang tidak bisa diungkapkan. Entahlah, mungkin saat ini kita sudah berjalan di
jalan yang berbeda. Sehingga, tak ada lagi sapa, senyum, dan percakapan manis
seperti yang lalu.
Pada kesempatan yang Tuhan berikan ini, kita terpisah
pada tribun yang berbeda. Kamu duduk manis dengan beberapa senyum yang kau
lontarkan. Bukan untukku memang, namun tetap saja tak ada perubahan. Masih sama.
Tak berubah meskipun kita kini telah berjauhan. Tempatmu duduk sebenarnya tak begitu jauh dariku. Tapi sikap kita yang semakin membuatku merasa jauh. Entah mengapa,
kehadiranmu yang sepertinya kebetulan begitu menghasut pikiran. Namun, tunggu
dulu. Entah kebetulan, atau memang kehendak Tuhan, aku tak paham. Tapi,
terimakasih. Rindu yang beberapa hari lalu sempat mengganggu pikiranku, kini sirna
ketika aku bertemu denganmu di kesempatan ini. Mataku kembali fokus pada
permainan sepak bola yang ada di depan mata. Hujan yang mengguyur membuat euphoria
di tribun menjadi semakin ramai. Teriakan dari segala penjuru sedikit membuatku
lupa bahwa kamu ada disini. Disini, bukan di sampingku. Namun, disana, di
tribun yang berbeda.
Tanganku bertepuk tangan mengikuti euphoria penonton yang
ada di sekelilingku. Senyum mengembang dimana-mana. Teriakan lantang dan
yell-yell menggema menjadi support untuk para pejuang lapangan. Di tengah-tengan
kebisingan itu, mataku memang belum bisa terlepas memperhatikanmu di ujung. Dari
tempatku duduk, memang tak terlihat jelas. Tapi apalah arti kata rindu? Aku tetap
memperhatikanmu walau hanya sebuah bayangan. Aku mengibaskan tanganku sambil
berkata dalam hati, “Ah sudahlah!”. Aku tidak boleh memperhatikanmu lagi. Aku tidak
boleh mengharapkan senyum. Bahkan sapaan lagi darimu. Aku juga sudah menyadari
kalau kita sudah berjalan pada jalan kita masing-masing. Kita sudah sama-sama
berlari meninggalkan yang sudah terjadi. Kita juga sudah tidak butuh
lukisan-lukisan lama yang berbau drama yang sempat kita perankan dulu. Kita sudah
berbeda.
Udara di stadion tiba-tiba menjadi garang. Hujan menembus
tribun dari arah depan. Aku tetap terfokus pada permainan bola meskipun aku
harus membohongi perasaanku sendiri. Tapi sudahlah, cukup. Ini adalah
kesempatan yang kebetulan. Kebetulan bertemu denganmu. Kebetulan melihat
wajahmu. Kebetulan mengobati rindu. Sesederhana itulah kesempatan kita pada
sore yang beranjak senja ini. Meski langit mulai berubah menjadi petang, meski
terang sudah berubah menjadi hujan, meski euphoria kebahagian telah berubah
menjadi kekecewaan. Namun, tetap saja, kita yang telah berjalan sendiri tidak
akan berubah menjadi berjalan pada jalan yang sama.
Semuanya berhenti. Para pejuang lapangan mulai kembali ke
arah tribun. Euphoria yang tadinya sangat bising tiba-tiba menjadi hening. Penonton
mulai meninggalkan tribun, termasuk kamu. Kesempatan kita berakhir pada petang
ini. Terimakasih atas kesempatan yang kebetulan terjadi. Kesempatan yang
sedikit telah mengobati rasa rindu yang mengembang.
Annisa Ulfah Miah
20 February 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar