Kamis, 20 Februari 2014

Kesempatan yang Kebetulan



            Setelah sekian lama kita tidak berjumpa, kini kita dipertemukan dalam kesempatan yang lain di sebuah sore yang beranjak senja. Kita berada dalam satu tempat tanpa saling menyapa. Tanpa saling senyum. Tanpa ada percakapan sedikitpun. Ini adalah pertemuan yang kesekian kalinya sejak kita berpisah. Pertemuan yang tak pernah membawa kabar baik bagiku. Mungkin juga bagimu. Kita layaknya orang yang tak pernah kenal. Kita sama-sama memungkiri bahwa sebenarnya kita pernah bersama. Kita pernah menjadi satu. Dibalik sikap cuekmu, aku pernah menjadi yang terbaik. Aku pernah menemanimu dan melukis harimu sehingga lebih bermakna untuk dilewati. Aku pernah menjadi wanita yang mendampingimu setiap saat. Pernah. Kamu juga demikian, kamu pernah menjadi pria utama di hidupku. Pria yang selalu aku rindukan. Pria yang aku banggakan di depan semua orang. Pernah. Namun, kita memang sama-sama diselimuti rasa gengsi yang tidak bisa diungkapkan. Entahlah, mungkin saat ini kita sudah berjalan di jalan yang berbeda. Sehingga, tak ada lagi sapa, senyum, dan percakapan manis seperti yang lalu.

            Pada kesempatan yang Tuhan berikan ini, kita terpisah pada tribun yang berbeda. Kamu duduk manis dengan beberapa senyum yang kau lontarkan. Bukan untukku memang, namun tetap saja tak ada perubahan. Masih sama. Tak berubah meskipun kita kini telah berjauhan. Tempatmu duduk sebenarnya tak begitu jauh dariku. Tapi sikap kita yang semakin membuatku merasa jauh. Entah mengapa, kehadiranmu yang sepertinya kebetulan begitu menghasut pikiran. Namun, tunggu dulu. Entah kebetulan, atau memang kehendak Tuhan, aku tak paham. Tapi, terimakasih. Rindu yang beberapa hari lalu sempat mengganggu pikiranku, kini sirna ketika aku bertemu denganmu di kesempatan ini. Mataku kembali fokus pada permainan sepak bola yang ada di depan mata. Hujan yang mengguyur membuat euphoria di tribun menjadi semakin ramai. Teriakan dari segala penjuru sedikit membuatku lupa bahwa kamu ada disini. Disini, bukan di sampingku. Namun, disana, di tribun yang berbeda.

            Tanganku bertepuk tangan mengikuti euphoria penonton yang ada di sekelilingku. Senyum mengembang dimana-mana. Teriakan lantang dan yell-yell menggema menjadi support untuk para pejuang lapangan. Di tengah-tengan kebisingan itu, mataku memang belum bisa terlepas memperhatikanmu di ujung. Dari tempatku duduk, memang tak terlihat jelas. Tapi apalah arti kata rindu? Aku tetap memperhatikanmu walau hanya sebuah bayangan. Aku mengibaskan tanganku sambil berkata dalam hati, “Ah sudahlah!”. Aku tidak boleh memperhatikanmu lagi. Aku tidak boleh mengharapkan senyum. Bahkan sapaan lagi darimu. Aku juga sudah menyadari kalau kita sudah berjalan pada jalan kita masing-masing. Kita sudah sama-sama berlari meninggalkan yang sudah terjadi. Kita juga sudah tidak butuh lukisan-lukisan lama yang berbau drama yang sempat kita perankan dulu. Kita sudah berbeda. 

            Udara di stadion tiba-tiba menjadi garang. Hujan menembus tribun dari arah depan. Aku tetap terfokus pada permainan bola meskipun aku harus membohongi perasaanku sendiri. Tapi sudahlah, cukup. Ini adalah kesempatan yang kebetulan. Kebetulan bertemu denganmu. Kebetulan melihat wajahmu. Kebetulan mengobati rindu. Sesederhana itulah kesempatan kita pada sore yang beranjak senja ini. Meski langit mulai berubah menjadi petang, meski terang sudah berubah menjadi hujan, meski euphoria kebahagian telah berubah menjadi kekecewaan. Namun, tetap saja, kita yang telah berjalan sendiri tidak akan berubah menjadi berjalan pada jalan yang sama. 

            Semuanya berhenti. Para pejuang lapangan mulai kembali ke arah tribun. Euphoria yang tadinya sangat bising tiba-tiba menjadi hening. Penonton mulai meninggalkan tribun, termasuk kamu. Kesempatan kita berakhir pada petang ini. Terimakasih atas kesempatan yang kebetulan terjadi. Kesempatan yang sedikit telah mengobati rasa rindu yang mengembang.

Annisa Ulfah Miah
20 February 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar