Malam
ini tak ubahnya seperti malam yang lalu. Sepi, dingin, dan tak pernah ada
sapaan lembut lagi. Entah mengapa, sejak kejadian itu aku selalu berusaha
menghapus bayanganmu. Bayangan yang entah sampai saat ini tak pernah lelah
mengikutiku. Disini, di tempat kesukaanku. Aku selalu menyangkal tentang perasaan
ini. Salah besar jika aku terus membiarkan cinta ini mengembang. Aku akan jadi
orang yang paling berdosa bila nanti aku sampai menghancurkan hubungan manismu
dengan bidadari indah yang selalu ada disampingmu setiap saat. Aku wanita, dan
aku paham semua rasa. Aku tak mungkin memliki hati licik untuk menghancurkan
hubunganmu. Sama sekali tidak. Aku hanya butuh waktu untuk membunuh rasa cinta
yang terus mengembang. Karena ini sebenarnya memang tidak boleh terjadi. Tidak.
Meski aku menyayangimu dan mengharapkanmu, ini tidak akan
membuatku berada di sampingmu. Aku harus sadar diri bahwa aku hanyalah
seseorang yang entah ada dipikiranmu atau tidak. Yang entah pernah kamu
tanyakan kabarnya atau tidak. Ya Tuhan, semua ini begitu absurb. Entah apa yang
harus aku lakukan saat ini. Berdiam dirikah? Atau aku harus melangkah jauh
pergi? Ataukah aku harus melanjutkan memperjuangkanmu? Semua ini semu. Absurb. Dan
hanya khayalan. Tidak pernah aku berfikir aku akan mencintaimu sedalam ini. Akan
menginginkanmu sejauh ini. Aku tak pernah berfikir seperti itu, sungguh. Aku bahkan
tak paham mengapa aku bisa memiliki perasaan sedalam ini padamu. Pada seorang
pria yang jelas-jelas sudah memilih wanita lain sebagai jalannya. Aku bingung. Sungguh,
jika boleh memilih, aku tidak ingin memiliki rasa ini. Aku tahu, diantara kita,
pasti aka nada yang terluka. Pasti.
Seiring berjalannya waktu, rasa yang dahulunya selalu
mengembang, kini seakan kehilangan pompa untuk mengembang lebih besar lagi. Bahkan,
kini malah seperti menyusut perlahan-lahan. Aku bahagia. Kini rasa itu tak
membebani pikiran lagi. Aku tak akan mengharapkanmu seperti yang lalu. Aku juga
sudah bisa membiasakan diri untuk tidak melihatmu lagi dan aku berhasil. Ingin rasanya
aku merayakan kemenangan hati yang bebas ini. Namun, ada satu hal yang tetap
mengganjal dan selalu menghalangiku untuk lebih jauh melangkah. Senyummu. Meski
senyum yang indah merekah itu bukan untukku, tapi mengapa setiap aku melihat
senyum itu aku selalu kehilangan daya yang telah aku bangun untuk menjauh
darimu. Aku tolol. Aku sudah dengan susah payah membangun tembok besi agar aku
tidak lagi mengharapkanmu tapi mengapa hanya karena senyummu yang meskipun
tidak untukku, tembok besi itu roboh seketika. Ya Tuhan, kekuatanku adalah
kekuatan dari-Mu. Entah aku harus bagaimana saat ini. Aku sudah berkali-kali
untuk menghindarinya di setiap langkah. Namun, entah itu kebetulan atau memang
ditakdirkan Engkau, aku selalu bertemunya tak sengaja. Selalu mendapatkan bonus
senyum indah itu. Ya, sebenarnya aku lelah dengan semua ini. Terus membangun
tembok besi setinggi-tingginya, namun akhirnya juga akan roboh sia-sia.
Baiklah, sesuatu yang mungkin harus aku jalani. Aku harus
mampu. Aku tidak boleh goyah dengan pendirianku. Aku harus tetap maju untuk
melupakanmu. Aku selalu ingat bahwa disampingmu ada seorang bidadari yang jauh
lebih dari aku. Dan akan mustahil rasanya bila aku akan menggantikan posisinya
disampingmu. Aku akan melukai hati yang tak pernah melukaiku. Hati bidadarimu. Dan
tentu saja aku tak mau melakukannya. Aku juga wanita dan aku juga bisa
merasakan yang ia rasakan. Aku memilih melupakanmu karena aku pikir itu akan
menjadi jalan terbaik agar diantara kita tak ada hati yang akan terluka. Aku akan
mundur sebelum kamu tahu sebenarnya bahwa aku benar-benar menyayangimu, bahkan
bisa lebih dari kekasihmu,
Annisa Ulfah
Miah
21 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar